Rabu, 28 Desember 2011

Pembahasan Kuis Paling Akhir DDM 2

Kepada segenap agan agan yang saya hormati
Tak lupa pula dengan mbak sist yang sangat saya sayangi

Nilai ane kalah gan, dari teman ane sendiri yang belajar bareng dengan ane
Namanya Agus Randhani Rahmatullah
Ada cerita unik dari nama teman ane ini
Secara tidak sengaja, ane bisa menebak secara benar arti namanya
Dan secara tidak langsung, dia bercerita panjang lebar tentang arti namanya

Jadi gini, dulu jaman tidak enak saat perang timor timor
Ayahnya dhani ikut berangkat ke peperangan disaat ibunya dhani lagi hamil
Yang ditakutkan adalah ketika Ibunya dhani menjadi Janda atau men-Janda-ni.
Jikalau ayahnya wafat saat perang (berpulang ke Rahmatullah)
Akhirnya anaknya dinamakan Agus, artinya anak bagus

Singkat cerita jadi gini
Anak baGUS yang menjaga jikalau ibunya ngeRANDHANI di saat ayahnya berpulang ke RAHMATULLAH
Jadilah anak nan pintar yang bernama AGUS RANDHANI RAHMATULLAH
Dan Ternyata alhamdulillah, ayahnya belum mati

Tetapi Kali ini ternyata ane ditertawakan gan
Ditertawakan orang2 sekelas lagi, termasuk dosennya
Padahal belum tentu yang menertawakan ane itu nilainya lebih baik dari ane
Padahal nilai ane yang 64 itu kan gak jelek jelek amat
Entahlah, biarkanlah "ANJING" menggonggong
Dewasa ini gk ada gan, orang yang ikut senang saat orang lain bahagia
Yang ada, orang itu iri dan justru malah lebih senang melihat orang lain menderita

Wah, koq ane jadi ngasih pesan moral gini
Entahlah,langsung aja cekidot ke soal

1. Buktikan bahwa n^3 - n habis dibagi 3
Jawab : Sebelumnya untuk n=2 8-2 = 6 , 6 habis dibagi 3 Karena 6 = 3x2
Dengan Teorema Induksi Matematika
untuk n=1
1-1=0, 0 kelipatan 3 sebab 0=0x3
untuk n=k
k^3 - k habis dibagi 3 dengan t elemen N bilangan Asli
k^3 - k = 3t
untuk n=k+1
(k+1)^3 - (k+1)
=k^3 + 3k^2 + 3k + 1 - k - 1
=k^3 + 3k^2 + 3k - k
=(k^3 - k) + 3k^2 +3k
=3t + 3(k^2 + k)
=3(t + k^2 + k)
dengan (t + k^2 + k) elemen N Maka berlaku pula untuk n=k+1
Dengan Demikian Terbukti benar bahwa n^3 - n selalu habis dibagi 3

InterMEZZO Sebenarnya ketika diuraikan n^3 - n = n(n-1)(n+1)
Himpunan Kelas ekuivalensi yang terPartisi untuk kelipatan 3,yaitu
[1] = { ...,-5,-2,1,4,7,10,... }
[2] = { ...,-4,-1,2,5,8,11,... }
[3] = { ...,-3,0,3,6,9,12,... } Termasuk juga 0
(Lazimnya Himpunan [3] ditulis Himpunan [0])
Sehingga untuk n himpunan [1] Ambillah n=4 4(4-1)(4+1) Terlihat kelipatan 3 di n-1 yaitu 4-1
Untuk n himpunan [2], ambil n=2 2(2-1)(2+1) Terlihat kelipatan 3 di n+1 yaitu 2+1
Untuk n himpunan [3], terihat kelipatan 3 di n, ambil n=3 3(3-1)(3+1) Terlihat di n=3

2. Buktikan bahwa akar(2) adalah bilangan irrasional
(Pentunjuk : Jika x bilangan rasional, maka x dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan yang paling sederhana)

Jawab : Dari petunjuk tersebut, secara tidak langsung memberitahukan bahwa untuk x = a/b bentuk pecahan yang paling sederhana
a dan b relatif prima, Artinya tidak ada faktor persekutuan dari a dan b selain 1
fpb(a,b) = 1 dan memang hanya satu (tunggal) yaitu 1 itu sendiri
Barulah x dikatakan bentuk pecahan yang paling sederhana

Dengan Pernyataan :
Jika x adalah akar(2), maka x merupakan bilangan irrasional

Dengan Bukti Kontradiksi
Andaikan ( ~q ) benar
Andaikan x adalah bilangan rasional (Dengan mengasumsikan p juga benar => p : x adalah akar(2)
Andaikan x adalah bilangan rasional, x dapat dinyatakan dengan a/b
Dengan a,b elemen Z (Elemen bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol ( b != 0 )

akar(2) = a/b
Kuadratkan kedua ruas
2 = a^2/b^2
a^2 = 2(b^2)
a kuadrat merupakan bilangan positif kelipatan 2, maka a kuadrat genap
Jika a kuadrat genap, maka a juga bilangan genap
a dapat dinyatakan dengan 2t dengan t elemen N (N bilangan asli)
a = 2t

Substitusikan a = 2t ke persamaan awal
a^2 = 2(b^2)
(2t)^2 = 2(b^2)
4(t^2) = 2(b^2)
2(t^2) = b^2
b kuadrat adalah 2(t kuadrat) dengan t elemen N, maka b kuadrat genap
Jika b kuadrat genap, maka b juga genap
b dapat dinyatakan dengan 2s dengan s elemen N (N bilangan asli)

Sehingga a/b = 2t/2s
a/b bukan merupakan pecahan yang paling sederhana, karena ada faktor persekutuan 2
a/b masih bisa dinyatakan lagi dengan t/s
Karena ada faktor persekutuan lain selain 1 pada a dan b
(Faktor tersebut adalah 2, karena a dan b sama sama genap)
Maka hal tersebut bertentangan (KONTRADIKSI) dengan pernyataan bahwa :
1. a/b bentuk pecahan yang paling sederhana
2. a dan b merupakan relatif prima dimana tidak ada faktor persekutuan dari a dan b selain 1

Maka pengandaian ditolak, Pernyataan p dan ~q adalah salah
Menyebabkan pernyataan negasinya, p => q terbukti benar
Terbukti bahwa akar(2) adalah bilangan irrasional

InterMEZZO :
Sekedar mereview tentang bilangan prima
Bilangan prima adalah bilangan yang hanya mempunyai faktor dirinya sendiri dan 1
Seperti
2 = 2x1
3 = 3x1
5 = 5x1
7 = 7x1

Dan meskipun 9 = 9x1 , Tetapi 9 bukan merupakan bilangan prima
Karena ada faktor lain => 9 = 3x3

Nah, itu tadi absolut revo, eh maksudnya absolut prima gan
Ini ane jelaskan tentang relatif prima
Arti kata relatif, tidak mutlak, nisbi, tidak pasti
Artinya, bilangan tersebut tidak mesti prima, prima di kondisi tertentu
Kadang prima, kadang bukan
Kita tahu bahwa 9 bukan prima
4 juga bukan prima (Karena selain 4 = 4x1 ternyata 4 juga 4 = 2x2)
9 dan 4 bukan prima
Tetapi 9 terhadap 4 dan 4 terhadap 9
Mereka berdua saling prima relatif
Karena tidak ada faktor pembagi antara 4 dan 9
Faktor Persekutuan Terbesar(FPB) dari 4 dan 9 hanyalah 1 dan itu tunggal

Kita tahu bahwa 9 bilangan ganjil dan 6 adalah bilangan genap
Disini 6 dan 9 bukanlah relatif prima
Karena adalah faktor 3 yang dapat membagi 6 ( 6 = 3x2) dan dapat membagi 9 ( 9 = 3x3)

Disini kesalah ane
Ane pikir 4 bilangan genap dan 9 bilangan gasal, dan diantara mereka adalah relatif prima
Sehingga ane simpulkan bahwa untuk semua x bilangan genap dan y bilangan gasal
Maka antara x dan y pasti relatif prima
Tetapi Bu Dosen saya yang sangat pandai langsung memberi contoh 6/9
Saya langsung shock ketika 6/9 itu diberi lingkaran berwarna merah
Ternyata saya memang pantas ditertawakan
Saya memanglah seorang newbie yang saat itu kelabakan akan waktu ujian
Sehingga saya mengambil kesimpulan yang cepat dan salah hanya dari satu contoh

3. Tunjukkan untuk setiap bilangan real r terdapat bilangan real x, demikian hingga x^3 = r

Jawab :
Dengan teorema eksistensi akan dibuktikan :
Misalkan sebarang bilangan real yang memenuhi ada x elemen bilangan real ; x^3 = r
Sehingga misal ambil nilai r elemen bilangan Real ; r=1/a
maka akan terdapat nilai x elemen bilangan Real yang memenuhi x^3 = r ; yaitu a^-1/3 elemen bilangan Real

Begitupun jika kita mengambil nilai r = a^3
maka akan terdapat nilai x elemen bilangan Real yang memenuhi x^3 = r ; yaitu x = a^1/3 dengan a elemen bilangan Real

Dengan demikian untuk semua bilangan real r terdapat bilangan real x, sedemikian rupa sehingga x^3 = r

Selasa, 27 Desember 2011

DDM2 Bukti Kontradiksi Nilai 100 yang membuat perpecahan

Wuih, sangar gan, ane yang gak sebegitu Rajin belajar ini dapat nilai 100
Update status fb gan (Add fb ane : Candra Arga Maulana)

UTS ane kemarin alhamdulillah yach, nilainya 73

Tapi Ane pernah dapat nilai 20 gan
Yang menyakitkan adalah, ane ditertawakan teman-teman sekelas
Termasuk dosennya
Menyinggung ane secara tersirat
Sang Dosen menyatakan, "Ya kalau responnya bagus, sering bertanya, harusnya ekuivalen lah dan konsisten dengan nilai yang bagus"
Wah, langsung galau hati ane gan, Karena memang ane sering bertanya, ane tidak langsung satu kali mudeng, sehingga sering bertanya
Tapi anehnya, teman-teman menanggapi lain, mereka pikir ane pintar, sebagian malah berpikir kalau ane sok pintar

Saat ane dapat 100, ane update sok sombong-sombongan gan
Sekarang siapa yang dapat 20
Woeh, sangar gan, ada anak Bangsat yang sok jagoan di depan ane.
Ngancem ane secara langsung dan mengajak berkelahi.
Pikir-pikir gan, kalau ane masih SMA sich, masih pantas berantem adu jotos
Lha wong sudah mahasiswa, di PT ternama, PT Negri juga, Tidak pantaslah gan kalau ane terima adu jotos
Seperti anak kecil saja.
Meskipun teman SMA ane yang kuliah di Univ sebelah yang PTS,banyak sich yang bisa diminta bantuan untuk menghajar anak Bangsat tersebut.
Tapi ane tetap berpegang teguh gan dengan prinsip kedewasaan.
Orang yang kuat itu bukanlah orang kekar badanya yang pandai berkelahi, tetapi Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan emosinya.
Toh sebenarnya ane juga tidak ada masalah dengan dia. Ini hanya salah paham.
Ada yang mengumpat langsung ke ane.
Ane jadi mikir, ini ane yang dikira sombong beneran? atau memang nilai mereka yang 20, sehingga mereka begitu marahnya.

Lama-lama satu persatu teman ane membenci ane.
Anak bangsat tersebut menularkan kebenciannya ke teman-teman ane sehingga teman ane berkurang.
Lama kelamaan, ane jadi tidak kerasan dengan dunia perkuliahan.
Pelajarannya sulit, Tugasnya banyak, Dosen sukanya mengejek, Banyak teman membenci ane.
Akhirnya ane ambil jalan tengahnya.
Datang selalu terlambat, Setelah kuliah, lalu pulang. Tidak menyapa teman. Ane berubah menjadi Mahasiswa Kupu kupu yang Apatis.
Sehingga ane usahakan tidak ada waktu luang untuk ane bercanda dengan teman-teman.

Langsung cekidot ke soal aja gan
1 soal pembawa bencana

1. Buktikan kebenaran pernyataan berikut :
Jika x bilangan rasional dan y bilangan irrasional, maka 2x - y adalah bilangan irrasional

Penyelesaian :
Dengan Bukti Kontradiksi ~(p => q) ekuivalen dengan p dan ~q

Andaikan (~q) benar
Andaikan 2x - y adalah bilangan rasional, maka 2x - y dapat dinyatakan dengan a/b dengan a,b elemen Z (Z = bilangan bulat) , dan b tidak sama dengan nol ( b != 0 )

Diasumsikan p benar, diperoleh
x bilangan rasional dan y bilangan irrasional
Sehingga ketika x bilangan rasional, haruslah y bilangan irrasional
Karena tidak ada identifikasi y bilangan irrasional
Gunakan permisalan x adalah bilangan rasional

x bilangan rasional, x dapat dinyatakan dalam p/q dengan p,q elemen Z dan q tidak sama dengan nol ( q != 0 )
Sehingga,
2x - y = a/b dengan x = p/q
2(p/q) - y = a/b
-y = (a/b) - 2(p/q)
y = 2(p/q) - (a/b)
y = (2bp-aq)/(bq)
dengan a,b,p,q elemen Z dan b != 0 dan q !=0 sehingga bq juga tidak sama dengan nol
Maka, menurut sifat sebelumnya, y teridentifikasi sebagai bilangan rasional

y bilangan rasional, bertentangan (KONTRADIKSI) dengan pernyataan awal bahwa y adalah bilangan rasional
Sehingga pengandaian diingkar ( p dan ~q terbukti salah) dan sebaliknya p => q (sebagai negasinya) Bernilai BENAR

Sehingga Terbukti bahwa Jika x bilangan rasional dan y bilangan irrasional, maka 2x - y adalah bilangan irrasional

Ada pertanyaan gan, Silahkan dikomeng !

Sekian
Terima kasih






Jumat, 04 November 2011

Sdikit Pembahasan UTS DDM 2 Matematika

Ketemu lagi gan,,semuanya yang saya hormati
Dan yang paling khusus,,,Request dari empunya nama yang biasa ane sebut
Sdri Nuri Fashichah,S.Si yang sangat saya sayangi
#Negesi(Menegaskan)

Ane pingin tertawa gan,,ketika dosen ane meminta maaf karena soal UTS DDM 2 terlalu gampang katanya
"Saya mohon maaf ya,,soalnya terlalu mudah,,Saya (Bu Liliek Susilowati) dan Bu Inna (Kuswandari) tidak menemukan soal DDM tahun lalu
Soal ini terlalu gampang,,ya rugilah kalau dapat nilai buruk" Kata beliau.

Yang ane suka,,belum ujian,,omongannya sudah mengarah ke penarikan kesimpulan
"Tapi tetap,,kejujuran bernilai sangat tinggi disini,,yang tidak jujur / berbuat pelanggaran akan diberi sanksi tidak dikoreksi dgn nilai akhir nol
Jadi kalau anda ingin memudahkan pekerjaan saya dan Bu Inna,,ya,,,,,",tambahnya.
Langsung ane jawab : "Berbuatlah pelanggaran" ^_^

Sayangnya,,soalnya dikumpulkan gan,,jadi ane tidak membahas semua soal,,tapi soal soal yang ane ingat aja
(Ngeles,,padahal bnyk yg gk bisa :D )

Bu Inna tiba tiba melihat pekerjaan ane dan tanya,,"Gampang kan ndrA7X",tanya beliau
Ane jawab "Wah soal no 9 ini,,sangar bu logikanya,,saya salut dengan yang membuat soal"
Tapi setelah melihat pekerjaan saya,,beliau berkata "Nyatanya kamu bisa gitu lho"
Ke Ge'eRan ane,,,kesimpulan ane sich,,jawaban ane benar ,,,hehe

Cekidot langsung ke TKP
Gini soalnya gan

9. Tentukan kesimpulan dari pernyataan berikut
Jika Hari ini buruh melakukan demo,,maka lalu lintas macet
Hari ini ada buruh melakukan demo,,atau rambu lalu lintas berfungsi dengan baik

Jawab : dinotasikan p : Hari ini demo buruh
q: Lalu lintas macet
r : Rambu lalu lintas berfungsi dengan baik
Jadi : p => q
p V r
Ane berpikiran bahwa ~p V q ekuivalen dengan p => q
Jadi pernyataan 2 dapat ane tuliskan ~(~p) V r
Jelas bahwa ~(~p) V r ekuivalen dengan ~p => r
Masih belum jelas gan?
Gini ja,,Negasi dari negasi suatu pernyataan adalah pernyataan itu sendiri
Sehingga ~[~(~p => r)] = ~[~p /\ ~r ] = p V r
Maka Terbukti bahwa p V r ekuivalen dengan ~p => r
Masih belum jelas lagi gan??! Buat tabel kebenaran,,dan buktikan bahwa p V r ekuivalen dengan ~p => r

Nah,,Jadi kita dapat
p => q
~p => r
Semakin bingung ane gan,,Tapi akhirnya dapat petunjuk dari sifat kontraposisi
Jadi p => q ekuivalen dengan ~q => ~p

Sedemikian rupa sehingga dengan Metode Silogisme
~q => ~p
~p => r
"""""""""""""""""
.'. : ~q => r
Kesimpulan : Jika lalu lintas tidak macet, maka rambu lalu lintas berfungsi dengan baik

Sedikit ane amati,,soal yang kelihatan sangat sulit,,eh kesimpulannya sangat simpel
Anak kecil aja tahu kalau lalu lintas tidak macet, maka rambu lalu lintas berfungsi dengan baik

Huft --"

Senin, 31 Oktober 2011

Dasar Dasar Matematika (DDM 2), Logika Matematika

Hai Agan agan sekalian yang saya hormati
Dan yang paling khusus,,Akhwat Icha yang sangat saya sayangi

Kali ini ane akan membahas materi Implikasi serta silogisme
Secara gan,,ane dulu mahir bngt pelajaran Logika Matematika di SMA
Tapi sayang banget,,Matkul DDM ane harus berakhir dgn nilai C
Apalagi baru kemarin sore dapat jelek,,nilai apa itu 20
Sbnarnya sudah ane prediksi
Tipuan di materi Implikasi itu hanyalah
~ p ˅ q = p => q ,dan
~ q => ~p ekuivalen dgn p => q
Tapi nyatanya tman2 ane bnyak yang masih newbie
Shg masih bngung kalau ~p ˅ ~q itu ekuivalen dgn p => ~q

Cekidot aja gan,,langsung ke TKP



Buatlah Kesimpulan dari Pernyataan pernyataan berikut :
2. Jika lalu lintas padat, maka jalanan macet
Hari ini jalanan tidak macet atau pemakai jalan tidak senang
3. Jika hewan bernapas dengan insang, maka ia hidup di air
Jika hewan memamah biak, maka ia tidak hidup di air

Jawaban :



Untuk lebih aman nya ,, yang log itu benar pada interval -2 q benar pada 3 keadaan
dan salah ketika antiseden p benar dan q salah
Sehingga buatlah garis bilangan dengan nilai kebenaran
Anda akan menemukan HP seperti yang saya sebutkan diatas

2. p : Lalu lintas padat
q : Jalanan Macet
r : Pemakai Jalan tidak senang

Sudah ane jelaskan di awal kalau ~ p ˅ q = p => q
Kalau gak percaya, silahkan buat tabel kebenaran
Perlu agan ketahui bahwa negasi dari negasi suatu pernyataan adalah kembali
ke pernyataan itu sendiri
Sehingga : ~[~( p => q)] = ~[p ˄ ~q] = ~ p ˅ q
Terbukti bahwa ~ p ˅ q = p => q
Dinotasikan : “Jika lalu lintas padat, maka jalanan macet” sebagai : p => q
“Hari ini jalanan tidak macet atau pemakai jalan tidak senang” sebagai ~ q ˅ r
~ q ˅ r = q => r

Dengan metode Silogisme :
p => q
q => r
.’. p => r
Kesimpulan : Jika lalu lintas padat, maka pemakai jalan tidak senang

3. p : Hewan bernapas dengan insang
q : Hewan hidup di air
r : Hewan memamah biak

Pernyataan pertama : p => q
Pernyataan kedua : r => ~q
Suatu pernyataan Implikasi ekuivalen dengan kontraposisinya
Sehingga r => ~q = q => ~r
Kalo agan masih gk percaya,,silahkan buat tabel kebenaran sendiri

Dengan Metode Silogisme :
p => q
q => ~ r
.’. p => ~ r
Kesimpulan : Jika hewan bernapas dengan insang, maka ia bukan pemamah biak
(atau versi ane) : Jika hewan bernapas dengan insang, maka hewan tersebut tidak memamah biak





Huft
Selesai gan
Cerita lugu tentang Silogisme :
Guru B.Indo ane dulu saat SMA,,mngajarkan rumus silogisme untuk bhsa Indonesia
Unas B.Indo dulu kan ada soal soal silogisme B.Indo,,tapi gk rumit rumit pake negasi segala macem
Yg ane bngung,,Rumus Silogisme bahasa Indonesia,,,agakx beda dgn rumus silogisme matematika
Ane tanyakan gan
Bu,,di Math itu rumus silogisme nya
p => q
q => r
.’. p => r
Tapi kalau di bahasa Indonesi koq
a => b
c => a
.’. c => b
Tapi apa jawabnya : Keduanya memang beda karena beda pelajaran
Ealah,,I’m dissapointed with your answer,,my teacher
Coba bertanya pada manusia,,Jawabx,,itu dicoret a nya shg jadi c => b ,,,sprti pada Math,,dicoret q nya,,shg mnjadi p => q
Aq bertanya pada Langit tua,,Jawabnya,,Pernyaataan trsebut bisa dibalik posisi menjadi
c => a
a => b
.’. c => b
Tapi ngapain tanya tanya gak jelas gitu,,nyatanya Ariel Peterpan bisa menjelaskn smua itu dgn metode kontraposisi
a => b ekuivalen dgn ~b => ~a
c => a ekuivalen dgn ~a => ~c
Sehingga pernyataan menjadi :

~b => ~a
~a => ~c
.’. ~b => ~c
Dan kita tahu bahwa ~b => ~c ekuivalen dgn c => b
Sehingga terbukti benar bahwa Ksimpulanx adalah c => b

Nah,,Ini gan,,Jawaban yang ane cari
Sudah dulu ya gan
Monggo dipahami atau di comment



Kamis, 20 Oktober 2011

Contoh Source Code Listing Program C++ Regula Falsi, Newton-Rhapson, dan Iterasi

Hai Agan agan,,mas bro,,mbak sist yang saya Hormati
and tman2 cwekq yang sangat saya sayangi,,terutama luna,and icha

Kali Ini CandrA7x akan membahas tentang Listing Program C++ untuk menyelesaikan persamaan tak linear
Persamaan yang di dalamnya ada e^x atau ln x,,gak mungkin kan kalau agan faktorkan and agan temukan jawabannya
Nah,,disitulah metode numerik hadir untuk "menebak-nebak" pendekatan jawaban akar dari x nya


Metode yang umum dipakai untuk penyelesaian persamaan tak linear
1. Metode Biseksi
2. Metode Regula Falsi
3. Metode Newton Rapshon
4. Metode Secant
5. Metode Iterasi

Tapi gak gue bahas semua gan
Ilmu gue masih blum nyampek

Langsung saja ke TKP gan

A. Contoh Program C++ Metode Regula Falsi

/* Nama Program : regula-falsi.cpp */
#include iostream.h
#include stdlib.h
#include conio.h
#include stdio.h
#include math.h
#define e 2.718281828
#define error_limit 0.00000000000001 //flexible sesuai kebutuhan
main()
{
FILE *regula_falsi, *regula_x;
double fx1, fx2, fx3,x1, x2, x3,x10, x20, f1f2,x, dx, y1, y2, dy;
int i, j, k;
char lagi, belum;
do
{
clrscr();
j = 0;
regula_falsi = fopen("regula_falsi.txt", "w+");
regula_x = fopen("cross_regula.txt", "w+");
do
{
clrscr();
cout << "Metode Regula-Falsi\n"; cout << "===================\n\n"; //Persamaan utama dan persamaan untuk mencari titik potongnya cout << "f(x) = 2*e^x - x - 3\n\n"; cout << "y1 = 2e^x dan y2 = x+3\n\n"; cout << "Mencari Titik Potong terdekat\n"; cout << "-----------------------------\n\n"; cout << "Berapa Nilai awal x = "; cin >> x;
cout << "\nBerapa Nilai Interval x = "; cin >> dx;
cout << "\nBerapa kali Iterasi = "; cin >> k;
printf("\n\t-------------------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx\ty1\ty2\tselisih\n");
printf("\t-------------------------------------------------\n\n");
fprintf(regula_x,"\n\t-------------------------------------------------\n");
fprintf(regula_x,"\tIterasi ke-\tx\ty1\ty2\tselisih\n");
fprintf(regula_x,"\t-------------------------------------------------\n\n");
for (i = 0; i < k; i++) { y1 = 2*pow(e,x); y2 = x + 3; dy = y1 - y2; printf("\t\t%d\t%.1f\t%.2f\t%.2f\t%.2f\n", i+1, x, y1, y2, dy); fprintf(regula_x, "\t\t%d\t%.1f\t%.2f\t%.2f\t%.2f\n", i+1, x, y1,y2,dy); x += dx; } printf("\n\t-------------------------------------------------\n\n"); fprintf(regula_x, "\t-------------------------------------------------\n\n"); fclose(regula_x); cout << "\nApakah Titik Potong telah ditemukan ? "; cin >> belum;
}while(belum != 'y');
cout << "\nMencari Titik Potong sebenarnya\n"; cout << "===============================\n\n"; cout << "Masukkan Nilai x1 = "; cin >> x1;
x10 = x1;
fx1 = 2*pow(e,x1) - x1 - 3;
do
{
cout << "\nMasukkan Nilai x2 = "; cin >> x2;
fx2 = 2*pow(e,x2) - x2 - 3;
x20 = x2;
f1f2 = fx1*fx2;
}while(f1f2 >= 0.0);
printf("\n----------------------------------------------------------------------------\n");
printf("Iterasi ke-\tx3\tfx3\t\tfx3 (16 digit) Error Aproksimasi\n");
printf("----------------------------------------------------------------------------\n\n");
fprintf(regula_falsi,"\n----------------------------------------------------------------------------\n");
fprintf(regula_falsi,"Iterasi ke-\tx3\tfx3\t\tfx3 (16 digit) ErrorAproksimasi\n");
fprintf(regula_falsi, "----------------------------------------------------------------------------\n\n");
do
{
j++;
x3 = (x1*fx2 - x2*fx1)/(fx2 - fx1);
fx3 = 2*pow(e,x3) - x3 - 3;
printf("\t%d\t%.3f\t%.6f\t%.16f\n", j, x3, fx3, fabs(fx3));
fprintf(regula_falsi,"\t%d\t%.3f\t%.6f\t%.16f\n", j, x3, fx3,
fabs(fx3));
if(fx1*fx3 < 0) { x2 = x3; fx2 = fx3; } else { x1 = x3; fx1 = fx3; } }while(fabs(fx3) > error_limit);
printf("\n----------------------------------------------------------------------------\n");
fprintf(regula_falsi,"\n----------------------------------------------------------------------------");
printf("\n\nDengan Nilai awal x1 = %.2f dan x2 = %.2f", x10, x20);
printf("\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.3f", x3);
printf("\n\nDengan Error sebesar = %.16f", fabs(fx3));
fprintf(regula_falsi,"\n\nDengan Nilai awal x1 = %.2f dan x2 = %.2f", x10,x20);
fprintf(regula_falsi,"\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.3f", x3);
fprintf(regula_falsi,"\n\nDengan Error sebesar = %.16f", fabs(fx3));
fclose(regula_falsi);
cout << "\n\nTekan Enter untuk melanjutkan ........."; getch(); clrscr(); cout << "\n\nCoba lagi dengan x dan y berbeda (y/t) ? "; cin >> lagi;
}while(lagi != 't');
return 0;
}

/* Nama Program : regula-falsi_1c.cpp */
#include iostream.h
#include stdlib.h
#include conio.h
#include stdio.h
#include math.h
#define e 2.718281828
#define error_limit 0.000000000000001 //flexible sesuai kebutuhan
main()
{
FILE *regula_falsi, *regula_x;
double fx1, fx2, fx3,x1, x2, x3,x10, x20, f1f2,x, dx, y1, y2, dy;
int i, j, k;
char lagi, belum;
do
{
clrscr();
j = 0;
regula_falsi = fopen("regula_falsi_3c.txt", "w+");
regula_x = fopen("cross_regula_3c.txt", "w+");
do
{
clrscr();
cout << "Metode Regula-Falsi\n"; cout << "Soal No. 3.c.\n"; cout << "===================\n\n"; //Persamaan utama dan persamaan untuk mencari titik potongnya cout << "f(x) = 3*x - cos(x) = 0\n\n"; cout << "y1 = 3*x dan y2 = cos(x)\n\n"; cout << "Mencari Titik Potong terdekat\n"; cout << "-----------------------------\n\n"; cout << "Berapa Nilai awal x = "; cin >> x;
cout << "\nBerapa Nilai Interval x = "; cin >> dx;
cout << "\nMaksimum Iterasi = "; cin >> k;
printf("\n\t-------------------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx\ty1\ty2\tselisih\n");
printf("\t-------------------------------------------------\n\n");
fprintf(regula_x, "\n\t-------------------------------------------------\n");
fprintf(regula_x, "\tIterasi ke-\tx\ty1\ty2\tselisih\n");
fprintf(regula_x, "\t-------------------------------------------------\n\n");
for (i = 0; i < k; i++) { y1 = 3*x; y2 = cos(x); dy = y1 - y2; printf("\t\t%d\t%.1f\t%.2f\t%.2f\t%.2f\n", i+1, x, y1, y2, dy); fprintf(regula_x, "\t\t%d\t%.1f\t%.2f\t%.2f\t%.2f\n", i+1, x, y1,y2, dy); x += dx; } printf("\n\t-------------------------------------------------\n\n"); fprintf(regula_x, "\t-------------------------------------------------\n\n"); fclose(regula_x); cout << "Apakah Titik Potong telah ditemukan ? "; cin >> belum;
}while(belum != 'y');
cout << "\n\nMencari Titik Potong sebenarnya\n"; cout << "===============================\n\n"; cout << "Masukkan Nilai x1 = "; cin >> x1;
x10 = x1;
fx1 = 3*x1 - cos(x1);
do
{
cout << "\nMasukkan Nilai x2 = "; cin >> x2;
fx2 = 3*x2 - cos(x2);
x20 = x2;
f1f2 = fx1*fx2;
}while(f1f2 >= 0.0);
printf("\n----------------------------------------------------------------------------\n");
printf("Iterasi ke-\tx3\tfx3\t\tfx3 (16 digit) Error Aproksimasi\n");
printf("----------------------------------------------------------------------------\n\n");
fprintf(regula_falsi, "\n----------------------------------------------------------------------------\n");
fprintf(regula_falsi, "Iterasi ke-\tx3\tfx3\t\tfx3 (16 digit) ErrorAproksimasi\n");
fprintf(regula_falsi, "----------------------------------------------------------------------------\n\n");
do
{
j++;
x3 = (x1*fx2 - x2*fx1)/(fx2 - fx1);
fx3 = 3*x3 - cos(x3);
printf("\t%d\t%.3f\t%.6f\t%.16f\n", j, x3, fx3, fx3);
fprintf(regula_falsi,"\t%d\t%.3f\t%.6f\t%.16f\n", j, x3, fx3, fx3);
if(fx1*fx3 < 0) { x2 = x3; fx2 = fx3; } { x1 = x3; fx1 = fx3; } }while(fabs(fx3) > error_limit);
printf("\n----------------------------------------------------------------------------\n");
fprintf(regula_falsi,"\n----------------------------------------------------------------------------");
printf("\n\nDengan Nilai awal x1 = %.2f dan x2 = %.2f", x10, x20);
printf("\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.3f", x3);
printf("\n\nDengan Error sebesar = %.16f", fabs(fx3));
fprintf(regula_falsi,"\n\nDengan Nilai awal x1 = %.2f dan x2 = %.2f", x10,x20);
fprintf(regula_falsi,"\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.3f", x3);
fprintf(regula_falsi,"\n\nDengan Error sebesar = %.16f", fabs(fx3));
fclose(regula_falsi);
cout << "\n\nTekan Enter untuk melanjutkan ........."; getch(); clrscr(); cout << "\n\nCoba lagi dengan x dan y berbeda (y/t) ? "; cin >> lagi;
clrscr();
}while(lagi != 't');
return 0;
}

B. Contoh Program C++ Metode Newton Rapshon

/* Nama Program : newton-rhapson.cpp */
#include iostream.h
#include stdlib.h
#include conio.h
#include stdio.h
#include math.h
#define error_limit 1E-13 /* flexible sesuai kebutuhan */
main()
{
FILE *newton;
int i, j;
double x, x0, xuji, dx, y,
dif1, dif2, dif,
syarat;
char lagi;
do
{
clrscr();
newton = fopen("newton.txt", "w+");
cout << "Metode Newton-Rhapson\n"; cout << "=====================\n\n"; /* Persamaan dan turunannya */ cout << "y = 4 + 5*x^2 - x^3\n\n"; cout << "y' = 10*x - 3*x^2\n\n"; cout << "y'' = 10 - 6x\n\n"; /* Mencari Nilai x -> 0 */
cout << "\n\nMencari Nilai x -> 0";
cout << "\n\nBerapa Nilai x ? "; cin >> xuji;
cout << "\nBerapa Nilai Interval x ? "; cin >> dx;
cout << "\nMaksimum Iterasi ? "; cin >> j;
printf("\n\t------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx\ty\n");
printf("\t------------------------------------\n\n");
fprintf(newton,"\n\t------------------------------------\n");
fprintf(newton,"\tIterasi ke-\tx\ty\n");
fprintf(newton,"\t------------------------------------\n\n");
for(i = 1; i <= j; i++) { y = 4 + 5*pow(xuji,2) - pow(xuji,3); printf("\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\n", i, xuji, y); fprintf(newton,"\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\n", i, xuji, y); xuji += dx; } printf("\t------------------------------------\n\n"); fprintf(newton,"\t------------------------------------\n\n"); do { /* uji nilai x */ cout << "\n\nUji Nilai x yang dipilih"; cout << "\n\nBerapa Nilai x -> 0 ? ";
cin >> x;
y = 4 + 5*pow(x,2) - pow(x,3);
dif1 = 10*x - 3*pow(x,2);
dif2 = 10 - 6*x;
/* Syarat agar x awal terpenuhi */
syarat = abs((y*dif2)/(dif1*dif1));
}while(syarat >= 1.00);
x0 = x;
printf("\n\t-----------------------------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx\ty\tdy\t\ty/dy\n");
printf("\t-----------------------------------------------------------\n\n");
fprintf(newton, "\n\t-----------------------------------------------------------\n");
fprintf(newton, "\tIterasi ke-\tx\ty\tdy\t\ty/dy\n");
fprintf(newton, "\t-----------------------------------------------------------\n\n");
/* Perhitungan Newton-Rhapson */
i = 1;
do
{
/* rumus x(i+1)=x-(y/y') */
y = 4 + 5*pow(x,2) - pow(x,3);
dif1 = (10*x) - 3*pow(x,2);
dif = y/dif1;
x = x - dif;
printf("\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\t%.3f\t\t%.4f\n", i, x, y, dif2, dif);
fprintf(newton,"\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\t%.3f\t\t%.4f\n", i, x, y, dif2,
dif);
i++;
}while(fabs(y) > error_limit);
printf("\t-----------------------------------------------------------\n\n");
fprintf(newton,"\t-----------------------------------------------------------\n\n");
printf("\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0);
printf("\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.8f", x);
printf("\n\nDengan Error sebesar = %.8f", y);
fprintf(newton,"\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0);
fprintf(newton,"\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.8f", x);
fprintf(newton,"\n\nDengan Error sebesar = %.8f", y);
fclose(newton);
cout << "\n\nCoba dengan x awal yang berbeda (y/t) ? "; cin >> lagi;
}while(lagi != 't');
return 0;
}


/* Nama Program : newton-rhapson_2.cpp */
#include iostream.h
#include stdlib.h
#include conio.h
#include stdio.h
#include math.h
main()
{
FILE *newton;
int i, j;
double x0, x, dx, y,
dif1, dif2, dif,
syarat;
char ya, lagi;
do
{
newton = fopen("newton_4a.txt", "w+");
do
{
clrscr();
cout << "Metode Newton-Rhapson\n"; cout << "Jawaban Soal No. 4.a.\n"; cout << "=====================\n\n"; //Persamaan dan turunannya cout << "y = 3*x - cos(x)\n\n"; cout << "y' = 3 + sin(x)\n\n"; cout << "y'' = cos(x)\n\n"; //Mencari Nilai x -> 0
cout << "Berapa Nilai x awal = "; cin >> x;
y = 3*x - cos(x);
dif1 = 3 + sin(x);
dif2 = cos(x);
//Syarat agar x awal terpenuhi
syarat = abs((y*dif2)/(dif1*dif1));
cout << "\nNilai " << x << " menghasilkan " << syarat; cout << "\n\nApakah x memenuhi syarat ? "; cin >> ya;
}while(ya != 'y');
x0 = x;
cout << "\nBerapa Nilai Interval x = "; cin >> dx;
cout << "\nMaksimum Iterasi = "; cin >> j;
printf("\n\t------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx\ty\n");
printf("\t------------------------------------\n\n");
fprintf(newton, "\n\t------------------------------------\n");
fprintf(newton, "\tIterasi ke-\tx\ty\n");
fprintf(newton, "\t------------------------------------\n\n");
for(i = 1; i <= j; i++) { y = 3*x - cos(x); printf("\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\n", i, x, y); fprintf(newton,"\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\n", i, x, y); x += dx; } printf("\t------------------------------------\n\n"); fprintf(newton,"\t------------------------------------\n\n"); //Perhitungan Newton-Rhapson cout << "Perhatikan Nilai x yang menghasilkan fungsi y paling mendekati 0\n"; cout << "Pilih Nilai x tersebut untuk perhitungan berikutnya\n\n"; cout << "\nBerapa Nilai x (y -> 0) = ";
cin >> x;
cout << "\nMaksimum Iterasi = "; cin >> j;
printf("\n\t-----------------------------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx\ty\tdy\t\ty/dy\n");
printf("\t-----------------------------------------------------------\n\n");
fprintf(newton, "\n\t----------------------------------------------------------\n");
fprintf(newton, "\tIterasi ke-\tx\ty\tdy\t\ty/dy\n");
fprintf(newton, "\t-----------------------------------------------------------\n\n");
for(i = 1; i <= j; i++) { //rumus x(i+1)=x-(y/y') y = 3*x - cos(x); dif1 = 3 + sin(x); dif = y/dif1; x = x - dif; printf("\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\t%.3f\t\t%.4f\n", i, x, y, dif1, dif); fprintf(newton,"\t\t%.d\t%.3f\t%.3f\t%.3f\t\t%.4f\n", i, x, y, dif1, dif); } printf("\t-----------------------------------------------------------\n\n"); fprintf(newton,"\t-----------------------------------------------------------\n\n"); printf("\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0); printf("\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.3f", x); printf("\n\nDengan Error sebesar = %.8f", y); fprintf(newton,"\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0); fprintf(newton,"\n\nDiperoleh Akar Persamaan x = %.3f", x); fprintf(newton,"\n\nDengan Error sebesar = %.8f", y); fclose(newton); cout << "\n\nCoba dengan x awal yang berbeda (y/t) ? "; cin >> lagi;
}while(lagi != 't');
return 0;

C. Contoh Program C++ Metode Iterasi

/* Nama Program : Iterasi Bentuk x = g(x).cpp */
#include iostream.h
#include stdlib.h
#include conio.h
#include stdio.h
#include math.h
#define error_limit 0.00000001
main()
{
FILE *x_gx;
int i;
double fx, g1x, x, xi, x0;
char lagi;
do
{
clrscr();
x_gx = fopen("x_gx.txt", "w+");
do
{
clrscr();
cout << "Metode Iterasi x = g(x)\n"; cout << "=======================\n\n"; //Persamaan, konversinya dan turunannya cout << "f(x) = x^3 - 9*x^2 + 18x - 6 = 0\n\n"; cout << "g(x) = -(x^3/18) + x^2/2 + 1/3\n\n"; cout << "g'(x) = -(x^2/6) + x\n\n"; cout << "Bila berulang berarti Nilai g'(x) > 1\n\n";
cout << "Masukkan Nilai x Asumsi = "; cin >> x;
g1x = (-pow(x,2)/6)+ x;
printf("\nx = %.3f\tg'(x) = %.6f\n\n", x, abs(g1x));
cout << "\nTekan Enter ........."; getch(); } while(abs(g1x) >= 1);
x0 = x;
i = 0;
printf("\n\t--------------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx = g(x)\tf(x)\n");
printf("\t--------------------------------------------\n\n");
fprintf(x_gx, "\n\t--------------------------------------------\n");
fprintf(x_gx, "\tIterasi ke-\tx = g(x)\tf(x)\n");
fprintf(x_gx, "\t--------------------------------------------\n\n");
do
{
/* rumus xi = g(x) = -(x^3)/18 + x^2/2 +(1/3) */
xi = -pow(x,3)/18 + pow(x,2)/2 + 0.3333333333;
fx = pow(xi,3) - 9*pow(xi,2) + 18*xi - 6;
printf("\t\t%d\t%.8f\t%.8f\n", i+1, xi, fx);
fprintf(x_gx,"\t\t%d\t%.8f\t%.8f\n", i+1, xi, fx);
x = xi;
i++;
}while(fabs(fx) > error_limit);
printf("\n\t--------------------------------------------\n\n");
fprintf(x_gx, "\n\t--------------------------------------------\n\n");
printf("\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0);
printf(" diperoleh\n");
printf("\nAproksimasi Akar Persamaan adalah x = %.10f\n", x);
printf("\nError Hasil Aproksimasi adalah f(x) = %.14f\n", fabs(fx));
fprintf(x_gx,"\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0);
fprintf(x_gx," diperoleh\n");
fprintf(x_gx,"\nAproksimasi Akar Persamaan adalah x = %.10f\n", x);
fprintf(x_gx,"\nError Hasil Aproksimasi adalah f(x) = %.10f\n", fabs(fx));
fclose(x_gx);
cout << "\n\nCoba lagi dengan x awal yang berbeda (y/t) ? "; cin >> lagi;
}while(lagi != 't');
return 0;
}



/* Nama Program : Iterasi_2.cpp */
#include iostream.h
#include stdlib.h
#include conio.h
#include stdio.h
#include math.h
#define e 2.718281828
main()
{
FILE *x_gx;
int i, j;
double fx, g1x, x, xi, x0;
char lagi;
do
{
clrscr();
x_gx = fopen("x_gx_5d.txt", "w+");
do
{
clrscr();
cout << "Metode Iterasi x = g(x)\n"; cout << "Jawaban Soal No. 5.d. \n"; cout << "=======================\n\n"; //Persamaan, konversinya dan turunannya cout << "f(x) = e^x - 3*x = 0\n\n"; cout << "g(x) = e^x/3\n\n"; cout << "g'(x) = e^x/3\n\n"; cout << "Bila berulang berarti Nilai g'(x) > 1\n\n";
cout << "Masukkan Nilai x Asumsi = "; cin >> x;
g1x = pow(e,x)/3;
printf("\nx = %.3f\tg'(x) = %.6f\n\n", x, fabs(g1x));
cout << "\nTekan Enter ........."; getch(); } while(abs(g1x) >= 1);
x0 = x;
cout << "\n\nBerapa Kali Iterasi (min. 20) = "; cin >> j;
clrscr();
printf("\n\t--------------------------------------------\n");
printf("\tIterasi ke-\tx = g(x)\tf(x)\n");
printf("\t--------------------------------------------\n\n");
fprintf(x_gx, "\n\t--------------------------------------------\n");
fprintf(x_gx, "\tIterasi ke-\tx = g(x)\tf(x)\n");
fprintf(x_gx, "\t--------------------------------------------\n\n");

for(i = 0; i < j; i++) { //rumus xi = g(x) = e^x/3 xi = pow(e,x)/3; fx = pow(e,x) - 3*x; printf("\t\t%d\t%.6f\t%.8f\n", i+1, xi, fx); fprintf(x_gx,"\t\t%d\t%.6f\t%.8f\n", i+1, xi, fx); x = xi; } printf("\n\t--------------------------------------------\n\n"); fprintf(x_gx, "\n\t--------------------------------------------\n\n"); printf("\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0); printf(" diperoleh\n"); printf("\nAproksimasi Akar Persamaan adalah x = %.6f\n", x); printf("\nError Hasil Aproksimasi adalah f(x) = %.8f\n", fabs(fx)); fprintf(x_gx,"\nDengan tebakan awal x = %.3f", x0); fprintf(x_gx," diperoleh\n"); fprintf(x_gx,"\nAproksimasi Akar Persamaan adalah x = %.6f\n", x); fprintf(x_gx,"\nError Hasil Aproksimasi adalah f(x) = %.8f\n", fabs(fx)); fclose(x_gx); cout << "\n\nCoba lagi dengan x awal yang berbeda ? "; cin >> lagi;
}while(lagi != 'n');
return 0;
}


Uda gue coba dan Alhamdulillah ya,,bisa di running
Yang penting bukan masalah bisa atau tidaknya program tersebut di running
Tp adalah mengerti tidaknya agan atas campuran dari bahasa C dan C++
Dan terlebih lagi,,mengerti algoritma program tersebut

Wookeeey gan
Bantu Sundul gan

Selasa, 09 Agustus 2011

Kisah Tentang Definisi Cinta yang Mematikan


Alkisah, bertemulah dua sahabat SMP yang telah lama tidak bejumpa. Mereka adalah Arga dan Sachrie. Arga yang sekarang telah kuliah, dengan bangga membawa laptopnya dan stik PS dan bermain di rumah Sachrie. Ternyata Sachrie tidak berkuliah, bahkan tidak menuntaskan pendidikan SMA nya. Padahal dulunya saat SMP, Sachrie adalah anak terpandai di kelasnya, dan Arga pun adalah Kakak kelas Sachrie yang juga pandai. Sehingga pertemuan Arga dan Sachrie pertama kalinya pun adalah karena rekomendasi dari guru untuk delegasi sekolah pada suatu lomba ilmiah. Arga adalah anak dari keluarga kurang mampu, sedangkan Sachrie adalah anak orang kaya yang memiliki pasar tradisional di daerah yang dekat rumah mereka. Terkadang anak yang baik dan penurut seperti Arga pun, memperoleh uang saku yang sama seperti Sachrie yang nakal, suka keluar rumah, dan tidak dipercaya oleh orang tuanya untuk membawa uang banyak.
Rasanya masih beberapa pertandingan PES 2011 dan Winning Eleven yang baru saja mereka mainkan. Tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 21:30. Padahal Arga sampai di rumah Sachrie pada jam 19:30. Tidak terasa dalam 2 jam itu, keduanya bercerita tentang kisah cintanya masing-masing. Padahal mereka berdua sedikit cupu pada saat pertama kali masuk SMP, tetapi kurun waktu satu dua tahun pun mampu membuat seseorang tersebut berubah sikap.
Indahnya saat SMP dikenang oleh Sachrie. ”Kamu masih ingat kan dengan temanku yang namanya Nia. Dulu itu dia sangat cantik sehingga kakak-kakak kelas, bahkan kakak-kakak penegak dan pembina pramuka, saat itu banyak yang dekat dan menggoda Nia”, Cerita Sachrie. Saat itu pun Nia juga adalah seorang anak yang pandai, sehingga teman-teman sekelas banyak yang men-comblang-kan Sachrie dengan Nia. Sachrie yang bisa dibilang saat itu menjadi saingan Nia dalam sekolah, malah sering memberi contekan kepada teman-teman. Dia bersikap biasa dan tidak menggangap Nia sebagai saingan. Sebenarnya hal-hal curang seperti inilah yang membuat murid peserta didik semakin lama semakin malas untuk belajar, karena adanya seorang yang pandai yang selalu memberi jawaban secara cuma-cuma pada teman-teman. Tetapi, anehnya hidup di Indonesia tercinta ini, justru orang-orang yang curang, tidak jujur, yang persisnya seperti Sachrie itu malah yang lebih disukai teman-temannya, bahkan ada teman perempuannya yaitu Emilia yang menjadi cinta dengan Sachrie, karena sikap ”baik” Sachrie kepada teman-teman. Hingga pernah pada suatu hari, Nia yang hanya ingin sekedar tanya pada Sachrie, tidak dijawab oleh Sachrie, karena bukunya dibawa oleh teman lainnya dan kebetulan itu adalah pelajaran matematika yang sulit yang Sachrie sendiri lupa konsepnya. Sehingga membuat Nia tidak mau menyapa dan bermusuhan dengan Sachrie selama beberapa hari.
Emilia yang berharap pada Sachrie, menceritakan semuanya dan meminta bantuan kepada Nia, karena Nia adalah anak perempuan yang paling dekat dengan Sachrie. ”Meskipun Nia saat itu bermusuhan denganku, tapi aneh, saat jam istirahat tiba-tiba dia duduk di atas meja bangku, dan saat itu aku duduk di kursi bangku. Kemudian dengan bahasanya yang halus, dia menyuruhku untuk pacaran dengan Emilia”, ungkap Sachrie. Kemudian Sachrie bercerita lagi ”Sebenarnya Aku tidak ada rasa pada Emilia, tapi aku lihat saat Nia berkata seperti itu, raut mukanya terkesan aneh, dia seakan tidak rela kalau aku akan menjadi milik Emilia, apalagi kenanganku bersama Nia begitu banyak ketika pertama kali bertemu di SMP. Hingga tak lama kemudian, beberapa hari setelah itu, teman-teman bertindak ngawur. Mereka menahan pintu di area sekolah di dekat kamar mandi, mereka menahanku dan Nia disana. Pikirku, ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Aku lalu menembak Nia. Nia, apakah kamu suka sama aku, maukah kamu jadi pacarku?, karena aku suka sama kamu. Kemudian aku kaget ketika Nia mengiyakan. What? Koq jawabannya iya”. ”Bagaimana sebenarnya maumu? Sudah nembak, lalu diterima, enak kan”, Sahut Arga yang saat itu mengalahkan Chelsea nya Sachrie 3-0 dengan gol yang dicetak C. Ronaldo dan Benzema. Sachrie menjawab ”Bukan begitu, aku kaget saja, karena saat itu adalah pertama kalinya aku nembak cewek dalam hidupku, meskipun setelah semua itu, Nia menjadi bermusuhan dengan Emilia, tapi satu hal yang aku banggakan ketika aku memiliki Nia, Aku dapat bangga untuk berkata –SELAMAT TINGGAL KAKAK-KAKAK– ”.
Lama kelamaan, semuanya berubah. Nia benar-benar membuat Sachrie cemburu. Nia mendekati semua teman laki-laki di kelas hingga 2 hari. Pada malam harinya, Sachrie ke rumah Nia dan menyatakan kecemburuannya. Cukup lega bercampur kesal rasanya hati Sachrie ketika Nia berkata bahwa selama itu Nia menguji Sachrie, dan mengatakan bahwa sebenarnya dia mau pacaran dengan Sachrie itu bersyarat, syaratnya yaitu jika dalam 3 hari Nia ”memanas-manasi” hati Sachrie dan Sachrie tidak cemburu, maka Nia akan minta putus dengan Sachrie. Terbesit di pikiran Arga, cewek itu aneh aneh saja. Ada ada saja denganmu.
Perasaan cinta terabaikan saat Arga sudah mulai menginjak kelas 3. Arga sudah mulai jarang kumpul dengan Sachrie, karena Arga lebih fokus mengurusi UN SMP. Tak terasa, Lisa, cewek yang disukai oleh Arga akhirnya diembat oleh Saleh, teman sekelas Sachrie yang memang dulunya adalah teman dekat Lisa. Saleh menjadi teman Sachrie, karena saat SD, dia pernah satu kali tidak naik kelas. Mungkin karena Orang tua Saleh kaya, yang membuat Saleh memperoleh uang saku lebih, dan lebih sering pacaran daripada fokus sekolah. Ulvia, teman Arga yang biasa membantu hubungan Arga dengan Lisa pun, berbalik menjatuhkan mental Arga. Apalagi ketika Ulvia sempat mengetahui bahwa saat Lisa berulang tahun, Saleh memberikan boneka dan karangan bunga yang besar dan cantik. Sedangkan Arga tidak punya banyak uang saat itu. Sehingga lama-kelamaan, Lisa menjadi milik Saleh. Padahal dulu Arga sering membantu Lisa, menggoda Lisa. Tetapi Arga pernah bertemu dengan teman SMP nya Ricky, dan Ricky menceritakan bahwa baru-baru ini Lisa dekat dan pacaran dengan teman SMP nya yaitu Rosicky. Rosicky yang dulu mendapat beasiswa karena dia tergolong kurang mampu. Ricky bercerita bahwa Lisa dekat dengan Rosicky dulu, bahkan Rosicky habis uang banyak hanya untuk mendapatkan Lisa. Arga merasa lega karena mengetahui dia telah terbebas dari pesona cewek matre sperti Lisa. Setelah semua diceritakan Arga, Sachrie malah menambahi ”Ayo Arga, Kapan-kapan kita main ke rumahnya Lisa, aku kemarin ketemu dia dan dia tambah cantik. Kita mainkan dia untuk membalaskan dendammu dulu saat kamu disia-sia kan oleh Lisa”. Arga menjawab ”Tidak Perlu”.
”Entah Mengapa, saat kelas 2 dulu aku berubah, dari yang pandai dan cupu, menjadi ingin tampil sok keren karena Nia. Aku dan Nia selalu berangkat pagi ketika sekolah, pagi sekali, pagi dimana hanya ada aku dan Nia di kelasku, pagi-pagi dimana teman-teman belum ada yang berangkat ke sekolah. Kedekatanku dengan Nia amat sangat, hingga pada suatu malam, Nia mengajakku ke suatu tempat. Tempat dimana disana sangat sepi dan memang banyak anak pacaran. Aku kaget ketika Nia menawariku untuk memeluknya dan menciumnya. Rasanya baru kemarin, enak sekali, surga dunia”. Arga menyahut ”Nafsuan kamu itu, wah kalau begini ini benar Ustadzku. Sebaiknya sejak kecil anak-anak itu disekolahkan di MI dan MTs lalu di-ngaji-kan. Agar semisal ketika dewasa nanti mereka khilaf, setidaknya mereka dapat ingat dulunya disekolahkan di MI atau MTs kemudian tahu caranya bertaubat”. Sachrie yang agak tersinggung lalu berkata ”Kamu itu sok agamis amis, kamu tidak tahu kan kalau cewek itu meskipun tidak di-gitu-kan, dia akan main sendiri. Belum tahu kan kalau cewek itu sebenarnya nafsunya 90%, tetapi tertutupi oleh rasa malu nya yang juga 90%. Sisanya itu ya nafsunya cowok yang cuma 10%, tapi selalu terlihat karena rasa malu cowok juga 10%, akhirnya terkesan cowok itu nafsuan”.
Tersinggung dengan perkataan Sachrie. Arga pun menjawab ”Ya tahu lah, bahkan aku lebih tahu dari kamu, seperti kamu tidak pernah onani saja, aku sekarang punya laptop, jam terbangku untuk nonton bokep lebih tinggi daripada kamu”, lalu Arga menambahkan ”Iya, aku tahu, cuma masalahnya, secara matematis, semakin lama akan semakin banyak anak-anak yang sejak kecil sudah pacaran dan melakukan, tidak menutup kemungkinan kalau jodohmu nanti tidak perawan lagi”. Sachrie menjawab ”Itu adalah resiko, aku pun tidak terlalu suka yang perawan, karena kalau dimainkan, nanti pasti ada darahnya. Sementara aku alergi darah. Apalagi di dunia ini tidak ada yang permanen. Seseorang tidak akan selalu perjaka atau selalu perawan......”, Arga langsung memotong ”Iya aku tahu, di dunia ini memang tidak ada yang permanen. Satu hal yang tetap di dunia ini adalah perubahan itu sendiri, memang semakin lama semakin berubah, tetapi mengapa perubahan di dunia ini mengarah pada keburukan”. Sachrie menambahkan ”Halah, kamu itu jangan sok mikirin negri ini, kita anak muda bro, memang ini saat-saat yang tepat untuk bermain dan memainkan dunia”
Extra time, Madrid Vs Chelsea, 3-3, sementara Arga dan Sachrie tetap melanjutkan obrolan mereka. ”Sachrie, aku koq kadang masih memimpikan Ina, temanku SMA, padahal aku sudah tidak cinta dengannya dan tidak pernah memikirkannya. Dulu, memang aku memikirkannya setiap malam, tetapi sekarang sudah tidak pernah lagi. Aku dulu menemaninya, menghiburnya saat dia menangis, tetapi karena dia sudah mencintai seseorang yang lain, akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa, aku dibohongi bahkan dikhianati, meskipun begitu, aku masih sempat memiliki rasa, meskipun sekarang aku dapat menghilangkannya. Percuma aku sudah susah payah berusaha untuk memilikinya”, tanya Arga. Sachrie menjawab ”kalau kamu memimpikannya, berarti dia juga memimpikanmu, meskipun mungkin sekarang dia sudah punya penggantimu, tetapi bisa jadi dia tetap saja memikirkanmu”. Arga lalu berkata ”Aku tidak percaya omonganmu Sachrie, darimana kamu bisa tahu kalau dia memikirkanku?”. Sachrie berkata ”Saat aku dengan Nia dulu, apa-apa yang dirasakan Nia, juga aku rasakan. Ketika Nia sakit, aku juga ikut sakit. Bahkan temanku yang menjenguk Nia saat dia melahirkan, dia kaget sendiri, ketika pada hari-hari yang sama dengan saat Nia melahirkan, saat itu pula aku sakit, bahkan sekarat, cinta itu mematikan, aku hampir mati dibuatnya, tapi untunglah tidak sampai mati”.
Rupanya hubungan Sachrie dan Nia tidak berlangsung lama. Saat setelah lulus kelas 3, Sachrie menjual Handphone nya yang biasa digunakan untuk menghubungi Nia, untuk suatu keperluan. Saat-saat itu hati Sachrie kadang tidak tenang dan firasat nya sering tidak enak. Ternyata selama ini Nia selalu menghubungi Sachrie tapi tidak bisa. Nia yang saat itu di kampung halamannya, dijodohkan dengan laki-laki lain oleh orang tuanya. Sebenarnya pun Nia tidak siap. Hati Nia masih ada pada Sachrie. Bodohnya Sachrie, dia baru tahu berita tentang Nia setelah dia melahirkan. Sachrie kadang menyesal, mengapa dulu dia menjual HP nya. Mengapa tidak hutang saja ke teman lain. Arga menyahuti bahwa permasalahan dia tetap saja UUD. Ujung-Ujungnya Duit. Entah mengapa, seluruh kisah cinta Arga berakhir tragis hanya karena uang. Mengapa cewek yang Arga dekati selalu matre. Anehnya, orang tua Arga sendiri, bahkan keluarga guru ngaji nya, sering bertengkar dalam rumah tangga yang permasalahannya uang. Padahal orang tua lain kadang memiliki permasalahan lain yang –lebih keren- yaitu anaknya yang nakal, tidak mau sekolah, tawuran, minum, narkoba dan sebagainya, yang justru masalah itu tidak mudah diatasi meskipun dengan uang sekalipun. Sehingga Arga berprinsip pada hidupnya bahwa dia harus kaya harta, bahkan dengan cara apapun juga. Cinta kadang mematikan, ketika cowok benar-benar mencintai ceweknya, malah ceweknya cenderung berpaling dan menyia-nyiakan cowoknya. Anehnya, ketika cowok biasa saja dan dibuat mainan, kadang cewek malah begitu cinta. Ketika yang satu begitu baik, malah kadang yang lain menilai pasangannya terlalu baik, dan justru me-mutus-kan pasangannya, padahal kebaikan yang dilakukan, semata-mata hanya untuk membahagiakan pasangannya, tetapi apa yang dia dapat, malah sebaliknya. Cinta itu buta, cinta itu indah, barulah Arga menemukan satu kata, cinta itu mematikan. Rasa cinta itu tidak seperti rasa sayang guru kepada murid yang pandai, yang mana ketika si A pandai, dia lebih diperhatikan oleh gurunya, lalu ketika semester lain si A menjadi bodoh dan muncul si B yang pandai, guru berpaling menjadi perhatian dengan si B. Cinta itu mutlak, justru itulah yang mematikan, tidak ada teori yang pasti untuk mendapatkan cinta, pengalaman, jam terbang, dan sekedar nyali pun, bukan jaminan untuk mendapatkan cinta, entah perhitungan nya seperti apa. Cinta tidak seperti laptop yang jika diberi tambahan uang untuk menambah RAM, VGA, Virtual Memory, modem termahal dan tercanggih, maka laptop akan semakin cepat aksesnya dan memberikan pelayanan yang lebih baik. Tidak seperti sepeda motor atau mobil yang mana jika sering diservis, diperhatikan, ganti spare part, ganti oli, aki, maka akan semakin enak digunakan. Lain dengan cinta yang kadang malah perhatian dan berkorban jika tahu jika pasangannya adalah orang kurang mampu, tetapi kadang malah memanfaatkan pasangan karena banyaknya uang yang diberikan pasangannya. Kadang justru jika terlalu sering diperhatikan, cinta cenderung terganggu dan merasa pasangannya posesif, sehingga ada kebosanan dalam menjalin hubungan. Entahlah, cinta itu teori yang sebenar-benarnya seperti apa.
Pikiran Sachrie hanyalah menyesali waktu, andaikan waktu bisa kembali lagi, dia tidak akan menjual HP nya. Tetapi pikiran Sachrie yang telah dewasa, tidak lagi mengejar Nia dan menikahinya. Meskipun hati Sachrie terlampau sakit saat Nia memberinya kabar bahwa dia telah memiliki suami, tetapi entah mengapa Sachrie masih bisa memaafkan Nia, dan kadang masih bertemu dan sempat jalan bersama untuk terakhir kalinya. Dalam lubuk hati Sachrie yang paling dalam, dia masih tidak rela jika Nia dengan orang lain. Akan tetapi, jika Sachrie nekat dan menikahi Nia, dia tidak bisa membayangkan nama baik keluarganya (keluarga pengusaha, pemilik pasar, keluarga Sachrie merupakan keluarga terpandang di daerahnya), dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana omongan tetangga yang mencibir jika Sachrie menikah dengan janda, yang sudah beranak lagi. Tetapi Sachrie benar-benar lega, karena di hari terakhir mereka bertemu, Nia sudah mengatakan untuk fokus menjalani hidup dengan suaminya, daripada diam-diam dengan Sachrie yang tidak jelas. Nia pun sudah bilang jika dia sudah lebih mencintai suaminya daripada Sachrie. Karena itu, hati Sachrie menjadi tenang dan sekarang ini tidak terlalu memikirkan Nia.
Andaikan waktu bisa diputar kembali, memang benar kata Imam Al-Ghozali, yang paling jauh di dunia ini adalah waktu, dan yang paling dekat di dunia ini adalah kematian. Arga pun sering berkata bahwa dewasa ini, segala sesuatu bisa dibeli dengan uang, bahkan hal seperti keperawanan seorang wanita pun dapat dibeli dengan uang, kecuali satu hal, waktu tidak dapat dibeli dengan uang, sekaya apapun anda, anda tidak akan bisa membeli waktu untuk kembali ke masa muda yang indah, dan membeli waktu untuk mengundur kematian dan masa tua. Sachrie dan Arga sepakat bahwa waktu itu menyisakan kenangan. Sebuah nama sebuah cerita. Sebuah kenangan yang mampu dilupakan, namun tidak mampu dimusnahkan, semuanya terlanjur tersimpan pada memori otak, seperti folder Prefecth dan Recent Items di komputer yang selalu menyimpan data tentang apa-apa yang dilakukan selama mengoperasikan komputer, aplikasi apa saja yang digunakan, folder dan file apa saja yang dibuka. Bedanya kenangan komputer di folder tersebut bisa dihapus, entah menggunakan Shift+Del atau Tune Up Shredder. Lain hal nya dengan memori di otak yang akan tersimpan terus-menerus selama yang memiliki otak tersebut masih hidup.
Nampaknya Arga hanya jago di PES 2011, pertandingan Winning Eleven lebih banyak dimenangkan oleh Sachrie. Arga baru tahu jika Sachrie pun tahu apa arti cinta, tidak sekedar nafsu belaka. Arga juga sering diledek ”cemen” oleh Sachrie karena masih belum memiliki pacar, tapi Arga tidak peduli. Dunia ini aneh, ada orang tua yang melarang anaknya untuk pacaran, tetapi ada pula orang tua yang curiga ketika anaknya tidak pacaran, mereka khawatir anaknya tidak laku. Arga sudah trauma dengan masalah percintaan, nyatanya ada temannya perempuan, yang pernah pacaran hingga 12 kali dan rata-rata putus karena masih teringat dengan 1 mantan terindah, meskipun mantannya tersebut sudah punya penggantinya. Cewek itu entahlah seperti apa dalam pikiran Arga, masa-masa muda nya dulu tidak pernah indah, kenangan bersama Nur, Lisa, Ina, Inez, tidak ada yang bahagia, semuanya mengecewakan dan lebih sering putus karena masalah materi. Entah kapan Arga menemukan cinta sejatinya, yang bisa menerimanya apa adanya, bukan karena ada apanya. Dewasa ini, di kampus Arga di-comblang-kan teman-temannya dengan gadis cantik dari Jember yang bernama Luna. Meskipun Arga cinta kepadanya, tetapi Arga tidak mau membuka hati. Arga sudah tidak mau kecewa lagi untuk kesekian kali, apalagi Luna sendiri tidak ada tanda-tanda mencintai dirinya. Untuk melupakan semua itu, Arga selalu mengisi laptopnya dengan aplikasi game, PSX PS1, PS2, hingga PES PS3 selalu dimainkannya. Main game membuat Arga teringat dengat masa kecilnya dulu. Masa kecil Arga dulu sangat bahagia, hidup dengan santai, memikirkan pelajaran sekolah, bercanda dengan teman-teman, bermain game, berlibur dengan orang tua, masa kecil yang begitu menyenangkan, gembira pada setiap tawa, tidak mengerti tentang rasa cinta dan anak perempuan. Sungguhlah saat Arga mengingat semua itu sewaktu TK, masa itu hanyalah sekitar 7 tahun, persisnya adalah masa-masa sebelum SMP. Hidup dalam kegembiraan dan canda tawa lebih enak daripada memikirkan cinta yang tak pasti bahagia. Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Arga berpamitan pulang, dan Sachrie menyahuti ”Arga, kalau ada temanmu yang cantik-cantik di kampus, kenalkan kepadaku, ku minta nomer Handphone nya”. Huft, Sachrie itu tetap saja begitu. Akhirnya Arga pun pulang, dan entah masih berpikir tentang bagaimana jodohnya nanti. ”Tetapi mengapa memikirkannya, yang ada nanti malah memikirkan Luna disetiap malam. Lebih baik tidur sekarang. Besok hari belum tentu indah seperti yang diharapkan, entah tugas apa yang menanti besok”, Pikirnya.

Senin, 11 Juli 2011

JIKA AKU MENJADI MENDIKNAS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan di dunia, Diawali ketika bayi. Dahulu, 4-5 tahun seorang balita bisa asyik bermain, tetapi sekarang dengan adanya playgroup, membuat seorang balita hanya 3-4 tahun saja bermain. Setelah itu masuk kepada jenjang pendidikan mereka yang pertama, kemudian masuk sekolah dasar (SD/MI), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama(SMP/MTs), lalu ke jenjang yang lebih tinggi (SMA,SMK,STM,MA), hingga akhirnya kuliah D3 atau S1. Kemudian jika seseorang tersebut pandai hingga mendapatkan beasiswa atau kemauannya keras, maka dia akan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi S2 dan S3. Kemudian dia menikah, mempunyai anak, lalu anaknya akan diupayakan untuk mengikuti siklus pendidikan seperti dirinya. Hal ini berlangsung terus menerus secara kontinu.
Masalah yang timbul adalah, bagaimana jika kondisi keuanagn tidak memungkinkan untuk sekolah, lalu bagaimana jika peserta didik yang bersangkutan merasa berat dengan materi pengajaran yang diterimanya. Orang tua terkadang langsung memberi label ”bodoh” pada anaknya jika anaknya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Orang tua juga terkadang tidak mengetahui bahwa pelajaran yang diterima anaknya sekarang lebih banyak daripada yang diterimanya dulu. Karena kurikulum akan terus berkembang. Misalnya saja, pelajaran Matematika Kesebangunan dan Phytagoras yang dulunya diajarkan waktu SMP,sekarang sudah mulai diajarkan di SD kelas 5 atau kelas 6. Akan tetapi, standar kelulusan berbanding lurus/sejalan dengan materi yang diperoleh. Semakin berganti tahun, semakin banyak saja materi yang diperoleh peserta didik, dan semakin besar pula standar kelulusan. Hal ini terasa semakin berat jika orang tua memaksakan kelulusan pada anaknya atau bahkan pada gurunya. Peserta didik akan merasa bagai kiamat, jika dia tidak mampu untuk lulus UN. Sehingga guru pengajar memberikan solusi praktis dengan cara menyontek saat UN. Guru memberikan contekan yang disebarkan sekelas, strategi menconteknya dipersiapkan secara matang sebelum UN. Memang akhirnya masalah kecil ini terselesaikan. Tetapi timbul masalah besar yaitu hati peserta didik menjadi tidak tenang, merasa berdosa karena sering nyontek. Peserta didik yang lainnya mungkin akan merasa tenang, lalu terbiasa melakukan tindak kecurangan, hingga timbul masalah kompleks yaitu banyaknya koruptor yang secara tidak jujur mencuri uang rakyat dan uang negara. Jika hal ini dibiarkan, maka akan semakin banyak orang yang berkeinginan keras untuk menjadi pandai dengan tujuan membodohi kaum lemah/rakyat jelata agar mereka bisa mendapat keuntungan sebanyak mungkin. Oleh karena itu, perlu adanya suatu perubahan mendasar dari Menteri Pendidikan Nasional agar masalah tersebut diatas dapat diatasi dari akarnya.
B. Rumusan Masalah
Dari pernyataan diatas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai beikut :
1. Apa pengertian Menteri Pendidikan Nasional ?
2. Bagaimana wajah pendidikan Indonesia saat ini ?
3. Apa yang saya lakukan jika saya menjadi Menteri Pendidikan Nasional ?
C. Tujuan
Essay ini disusun dengan tujuan :
1. Untuk mengetahui kondisi pendidikan bangsa Indonesia saat ini.
2. Agar lebih memahami tentang kebijakan Menteri Pendidikan Nasional.
3. Untuk memenuhi tugas pengganti Ujian Akhir Semester mata kuliah Bahasa Indonesia.



BAB II
ISI
A. Pengertian Menteri Pendidikan Nasional
Kementerian Pendidikan Nasional (dahulu bernama "Departemen Pengajaran" (1945-1948), "Departemen Pendidikan dan Kebudayaan" (1948-1985), "Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olahraga" (1985-1999) dan "Departemen Pendidikan Nasional" (1999-2009), disingkat Depdiknas) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pendidikan. Kementerian Pendidikan Nasional dipimpin oleh seorang Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang sejak tanggal 22 Oktober 2009 dijabat oleh Mohammad Nuh. Mendiknas juga dibantu oleh Wakilnya. Wakil Menteri Pendidikan Nasional yang mendampingi Mohammad Nuh saat ini adalah Fasli Djalal.
Saat ini, Kementerian Pendidikan Nasional terdiri dari:
• Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
• Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
• Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal (sebelumnya bernama Ditjen Pendidikan Luar Sekolah)
• Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
• Sekretariat Jenderal
• Inspektorat Jenderal
• Badan Penelitian dan Pengembangan
B. Kondisi Pendidikan di Indonesia
Pada dasarnya, bersekolah atau menuntut ilmu adalah kewajiban semua manusia. Pendek kata, untuk satu kali makan saja, seseorang akan membutuhkan banyak ilmu. Ilmu Matematika untuk mengetahui berapa banyak uang yang akan dibayarkan saat membeli suatu makanan. Ilmu Bahasa untuk berkomunikasi dengan penjual tentang jenis makanan yang akan dibeli, dan ilmu-ilmu lainnya. Menuntut ilmu seharusnya adalah suatu kewajiban. Setiap orang harus tetap semangat dan pantang menyerah dalam menuntut ilmu.
Menuntut ilmu sekarang ini dibagi menjadi suatu jenjang. Mulai dari TK, SD Sederajat, SMP Sederajat, SMA Sederajat, hingga jenjang pendidikan tinggi di Politeknik, Akademi, Sekolah Tinggi atau yang paling populer yaitu di Perguruan Tinggi dengan jenjang D3, S1, S2, hingga S3. Apalagi dewasa ini, muncul Playgroup yang membuat balita kekurangan masa bermainnya. Jadi tidaklah mengherankan jika anda menemui beberapa orang yang memiliki gelar Mahasiswa, tetapi mereka masih senang bermain game playstation, bahkan kecanduan game PS1 layaknya anak kecil. Karena waktu bermain mereka saat kecil dulu justru dipenuhi dengan aktivitas pembelajaran. Masuklah mereka pertama kali ke TK atau Playgroup terlebih dahulu, lalu SD,SMP,SMA, kemudian mencoba kuliah di PTN atau sejenisnya. Setelah itu mereka menikah, lalu mempunyai anak, menjadi orang tua, kemudian anaknya diupayakan untuk mengikuti kembali siklus pendidikan yang dulunya mereka jalani. Hal ini terjadi secara terus menerus layaknya suatu sistem yang kontinu dan sulit diubah. Ada yang bersekolah dengan tujuan agar mendapat pekerjaan yang layak. Anehnya, meskipun seseorang tersebut kaya (seorang milyarder), tetapi anaknya justru disekolahkan setinggi-tingginya hanya untuk sekedar prestige belaka.
Pemerintah mencanangkan program ”Wajib Belajar 9 Tahun”, hanya sampai jenjang SMP. Padahal ijazah SMA saja sekarang ini tidak laku untuk mengajukan lamaran pekerjaan di perusahaan. Akan tetapi, kebijakan ini cukup baik, karena Mendiknas mampu mendanai banyak anak kurang mampu untuk bersekolah. Bahkan, lebih baik lagi, Mendiknas memberi beasiswa BOPDA bagi peserta didik SMA Sederajat yang kurang mampu tetapi pandai. Sangat baik lagi, karena Mendiknas melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) juga memberikan bantuan bagi Mahasiswa kurang mampu yang berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri dengan beasiswa BIDIK MISI dan semacamnya. Sehingga pendidikan dapat dirasakan oleh siapa saja, bahkan pendidikan tinggi pun juga dapat dirasakan oleh rakyat kecil.
Dengan banyaknya beasiswa dan berbagai fasilitas yang diberikan, pastilah Mendiknas mengharapkan output yang baik pula. Kurikulum pendidikan ditambah. Hingga semakin banyak saja yang diajarkan. Misalnya saja, pelajaran Matematika Kesebangunan dan Phytagoras yang dulunya diajarkan waktu SMP,sekarang sudah mulai diajarkan di SD kelas 5 atau kelas 6. Apalagi semakin bertambahnya tahun ajaran, akan bertambah pula silabus materi yang diajarkan, juga akan semakin besar pula standar kelulusan. Mendiknas benar-benar menguji peserta didik dengan menambahkan beberapa materi dalam kurikulum terbaru setiap tahunnya. Dengan patokan nilai standar kelulusan yang semakin bertambah, menyebabkan beban peserta didik semakin berat saja.
Hal yang semakin memberatkan beban peserta didik adalah target dari orang tua agar anaknya dapat minimal lulus UN, dan maksimal dengan nilai terbaik setinggi-tingginya. Para orang tua kadang tidak peduli terhadap kemampuan anaknya. Entah anaknya mampu, entah tidak mampu dalam pelajaran, tetapi orang tua tetap memaksakan nilai tinggi pada anaknya, terkadang hal ini justru dilakukan hanya demi sekedar prestige belaka. Beberapa orang tua sekarang ini lebih memikirkan apa nanti kata tetangga sekitar daripada memperhatikan anaknya sendiri.
Menghadapi hal sulit seperti ini, guru sebagai fasilitator pembelajaran, justru memberikan solusi praktis yaitu dengan berbagai macam cara menyontek. Ada yang membentuk tim guru yang bekerjasama dengan mendapat soal UN terlebih dahulu sebelum ujian dimulai, lalu dikerjakan bersama-sama dengan membagi soal mata pelajaran tertentu pada guru tertentu, lalu diberikan kepada salah satu siswa yang sebelumnya telah diberi tanggung jawab untuk menyebarkan ke semua siswa peserta UN. Ada yang membuat kesepakatan bersama dengan mengambil uang kas semua semua siswa peserta UN untuk membeli jawaban dari suatu sumber-sumber tertentu yang dapat dipercaya. Hal ini dilakukan agar semua siswa lulus, tidak ada orang tua yang komplain, dan agar sekolahnya bisa lebih terkenal karena dapat meluluskan banyak siswa dengan beberapa siswa yang nilainya sangat tinggi. Cara yang lebih parah lagi, siswa yang paling pintar disuruh menyebarkan jawabannya. Jika dia tidak mau, maka dia diancam tidak akan dibantu oleh guru dan teman-temannya. Mungkin hal inilah yang menyebabkan kecurangan-kecurangan UN seperti ini akan terus terjadi. Bahkan saya pernah menemui anak yang masih kelas 5 SD, tetapi dia sangat sibuk belajar, pagi hari dia sekolah, siang hari pulang sekolah ada bimbingan belajar wajib di sekolahnya, ba’da maghrib dia les, tetapi sepulang dari les, orang tuanya mengantarkan dia untuk les lagi di LBB lain. Hal ini membuat anak tersebut kekurangan masa bermainnya. Meskipun anak tersebut nilainya bisa tinggi, namun curang rasanya bila anak lain yang tidak sesibuk dirinya juga bisa mendapat nilai sama, atau bahkan lebih tinggi daripada anak tersebut. Apalagi sekarang ini orang tua akan menilai anaknya bodoh atau pandai hanya dari nilai semata. Padahal kita tahu bahwa kecerdasan itu ada bermacam-macam, tidak hanya kecerdasan intelektual saja. Suatu sumber terpercaya telah menyebutkan tentang adanya 8 macam kecerdasan pada manusia.
Melihat kenyataan ini, sejak kecilpun anak sudah diajari untuk curang. Bahkan kabar baru-baru ini, seorang wali murid yang melaporkan bahwa anaknya disuruh untuk menyebarkan jawaban UN di SDN Gadel, justru wali murid tersebut dilaporkan balik telah menyebarkan nama baik sekolah, dan tetangga sekitar malah mengucilkan dirinya, sehingga dia pulang ke desa. Menyikapi hal ini, Mendiknas justru menyatakan tidak ada kecurangan UN dengan alasan bahwa tidak ada jawaban yang sama 100%. Seakan menutupi kejujuran, Mendiknas berkata bahwa nilai dan letak kesalahan bervariasi, sehingga tidak ada contek massal. Padahal kita tahu bahwa anak kecil yang polos, pasti mengatakan sesuatu hal itu sebenar-benarnya. Apalagi setiap anak pasti berbeda pemikiran, ada yang pandai sehingga mengubah jawaban dari gurunya, ada yang bingung sehingga menyamakan isi contekan sepenunya, dan sebagainya. Guru pun juga tidak akan sebodoh itu untuk memberikan jawaban sepenuhnya, entah dari 50 soal terdapat 7-10 soal tidak dijawab, entah dari 40 soal terdapat 5-7 soal tidak dijawab, sehingga jawaban siswa pasti berbeda-beda. Jika kejujuran kecil seperti ini saja tidak bisa dipertahankan di negeri ini, malah dianggap sebagai suatu kesalahan, apalagi kejujuran besar yang menyangkut nama negara. Mungkin hal semacam ini juga berlaku di kalangan pejabat negara. Mungkin korupsi yang terus marak di Indonesia ini terjadi akibat adanya ”pembiaran”, sehingga tidak akan ada koruptor yang jera, yang akhirnya menyebabkan siklus korupsi di Indonesia berjalan dengan mulus.
C. Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan Nasional
Menyikapi hal seperti ini, tentunya ada sesuatu yang harus diubah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Terdapat suatu kebijakan yang mungkin kurang tepat sehingga banyak terjadi kecurangan-kecurangan UN di Indonesia. Mendiknas dalam hal ini memang cukup baik, tetapi terdapat suatu hal yang menyebabkan terjadinya suatu kesalahan berupa kecurangan yang terjadi terus menerus.
Jika saya menjadi Mendiknas, saya akan melakukan hal yang sama dengan apa-apa yang dilakukan mendiknas saat ini. Dengan memberikan banyaknya beasiswa bagi rakyat kecil untuk menuntut pendidikan, sehingga pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan.
Jika saya menjadi Mendiknas, akan ada satu hal yang saya ubah. Saya akan membuat kebijakan dengan meluluskan seluruh peserta UN dengan nilai berarapapun juga, walaupun satu koma atau nol koma sekian sekalipun. Dengan dipastikan lulusnya peserta UN, menyebabkan UN tidak akan menjadi momok. Peserta didik akan belajar karena kesadaran dan kewajiban, bukan paksaan hanya untuk memenuhi standar kelulusan semata. Jika saya menjadi Mendiknas, kecurangan yang terjadi saat berlangsungnya ujian, akan saya selidiki dengan tuntas dan akan saya tindak tegas. Saya akan mengadakan penyuluhan bagi guru-guru agar tidak bertindak curang saat UN. Jika ada yang masih terbukti melakukan kecurangan, maka akan saya cabut status kepegawaiannya, atau paling maksimal, akan saya pecat dari profesinya.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa :
Pendidikan adalah suatu kewajiban bukanlah suatu paksaan untuk memenuhi standar kelulusan dari Mendiknas.
Kinerja Mendiknas saat ini telah bagus dengan memberi banyak beasiswa sebagai rakyat kecil. Sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Semakin berganti tahun, semakin banyak materi yang diajarkan, semakin bertambah pula standar kelulusan yang ditetapkan oleh mendiknas, sehingga UN rasanya menjadi momok yang menakutkan.
Jika saya menjadi Mendiknas, seperti Mendiknas sebelumnya, saya juga akan memberikan beasiswa bagi rakyat kurang mampu yang mau untuk belajar dan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Jika saya menjadi Mendiknas, Saya akan membuat kebijakan yang akan meluluskan semua peserta UN walau dengan rata-rata nol koma sekalipun, yang penting disini adalah, saya membutuhkan kejujuran dari peserta didik dan pengajar. Saya juga akan mengadakan penyuluhan bagi guru pengajar untuk tidak mengadakan kecurangan saat UN dan mengajar kejujuran kepada murid-murid. Tetapi saya akan tetap memberikan batas nilai untuk masuk Sekolah sekolah negeri dan Perguruan Tinggi Negeri yang nilainya agak tinggi atau mengambil nilai yang tertinggi. Sehingga nilai standar untuk lolos tes ditentukan setelah tes.

Jumat, 01 Juli 2011

WAKIL RAKYATKU

Bergelimangan harta dan banjir popularitas, begitulah rupanya wajah DPR masa kini yang justru lebih identik dengan glamoritas daripada kesederhanaan dan kepedulian kepada masyarakat kecil. Sungguh ironis, di tengah segala macam krisis yang melanda masyarakat , anggota DPR seperti tidak malu bersembunyi dalam kekuasaan dan terus merengek pada pemerintah agar diberikan haknya. Sungguh tak tahu malu! Seperti yang kita tahu hak ialah imbalan yang berlaku timbal balik apabila kewajiban sudah terpenuhi. Perlu kita ajukan satu pertanyaan ,”Apakah anggota DPR mau mendengar aspirasi rakyat dan mewujudkannya?”. Tentu kita sepakat bahwa aspirasi kita yang harusnya menjadi pertimbangan dalam menyusun kebijakan terabaikan begitu saja, tercecer bagaikan sampah tak berguna. Anggota DPR lebih menjunjung kepentingan ORMAS dan partai-partai yang mensponsori kebijakan mereka, tentu saja menyimpang dengan cita-cita dan harapan masyarakat. Patut disayangkan DPR yang seharusnya menjadi penopang rakyat dan penyambung lidah rakyat dengan pemerintah justru mengalami konflik terselubung dengan rakyatnya. Di saat rakyat gencar melakukan orasi dan melancarkan aspirasi-aspirasinya kepada DPR dengan penuh harapan dan pandangan ke depan mengenai adanya perubahan. DPR sebagai pihak yang diharapkan justru memadamkan secercah harapan rakyat. Mereka seperti ditulikan oleh kepentingan mereka pribadi. Mereka seperti tidak bertelinga untuk sekedar mendengarkan aspirasi rakyatnya dan menjadi penengah antara masyarakat dengan pemerintah. Tentunya hubungan yang terjalin antara masyarakat dengan anggota DPR bagaikan titian panjang yang tidak berujung. Hal ini merupakan penganiayaan terhadap falsafah demokrasi modern yang menganggap rakyat diatas segalanya dalam pengambilan keputusan dimana rakyat dianggap sebagai kelompok yang mempunyai hak tawar dalam menentukan masa depan perpolitikan indonesia dan mengubah kebijakan-kebijakan yang berlaku. Pada zaman dahulu kita dapat melihat idealisme Bung Karno, warisan yang belum terselesaikan dan masih terus memangggil kita. Hal itu menjadi keyakinan mendasar penyempurnaan cita-cita indonesia yang terus berlanjut. Hal-hal yang menunjukkan keyakinan jika DPR benar-benar didirikan atas prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan, maka anggotanya tidak bisa duduk bermalas-malasan sementara jutaan orang tertindas oleh ketidak berdayaan dan pelecehan oleh kaum atas. Apabila kita ingin dipandang sebagai sumber harapan seluruh bangsa dan dunia , kita tidak boleh dikenal karena bencana alam yang mendera dan perdagangan anak-anak tak berdosa yang telah mendunia, kita harus bersinar dan cemerlang karena jangkauan cita-cita kita. Jika Konstitusi kita memang tidak ditentukan oleh kelahiran dan keadaan masyarakat, maka anggotanya juga harus memastikan bahwa anak seorang jutawan dan anak yang sekedar hidup dalam tunjangan mendapatkan hak yang sama dalam memperoleh pengajaran , kesempatan hidup, dan pelayanan, karena sebenarnya kita adalah sama. Oleh sebab itu DPR tidak boleh membatasi diri dengan mengejar upaya pengejaran tujuan yang egoisme karena kita adalah sama dan dilahirkan dalam tanah yang sama. Anggota DPR dan masyarakat harus bisa bersinergi dalam mengungkap sisi lain dari kehidupan berbangsa, serta mengajak masyarakat duduk di suatu forum untuk mendengar kebijaksanaan pemerintah, peduli akan keluhan dan kondisi bangsa ini dalam segala aspek. Betapa pedihnya itu, DPR saat ini harus mengungkapkan kebenaran walaupun terasa sakit dan pahit karena bagaimanapun itu kebenaran tetap lebih baik daripada kemunafikan. Kemunafikan yang semakin membuat DPR makin menjauh dari rakyat, serta semakin melenceng dari paradigma dan opini publik dengan terapan kebijakan didalam pemerintahan. Hal itu semakin menunjukkan degradasi fungsi dari anggota DPR yang semakin menurunnya efektifitas kebijakan di mata publik. Sesuatu yang sungguh ironis jika diamati dari pandangan publik. Kita semua tahu bahwa DPR menjalankan peran signifikan dan simultan dalam penghubung antara rakyat dengan pemerintah, sebagai media pemvisualisasi potret kehidupan bermasyarakat apabila pemerintah tidak lagi peduli dengan pemberitaan. Kita tidak bisa membayangkan ditengah kondisi bangsa yang masih bergulat dengan krisis moral dan makin melimpahnya masyarakat yang berdiri dibawah garis kemiskinan, terjadi kerusakan pada fungsi DPR yang bertugas sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Tentunya ini membawa dampak sosial yang sangat luar biasa, DPR, yang seharusnya menjadi sosok “Bapak” bagi kehidupan anak-anaknya, justru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak dapat menginternalisasi teladan kepada anak-anaknya. Keadaan seperti ini, bukankah anak-anaknya akan berontak?, berontak menuntut haknya yang seharusnya mendapatkan pengayoman dan teladan yang baik dari bapaknya. Bukankah seharusnya masyarakat kita peduli dengan kondisi DPR seperti ini, dan keluar dari kondisi aman ini, dan menunjukkan kenyataan bahwa masih banyak masyarakat indonesia yang hidup kesusahan, di saat mereka merengek-rengek pada pemerintah menunjuk-nunjuk fasilitas yang mereka mau, dan ingin dipenuhi oleh pemerintah!”, sungguh hal yang menyedihkan dan menjadi sebuah ironi menyedihkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Suara lantang dan keras yang terdengar harmonis di telinga rakyat, di saat pemilihan anggota legislatif sudah tidak terdengar lagi, sepertinya sudah hilang bersama janji-janji manis yang mereka ucapkan di hadapan rakyat. Janji-janji membuat komitmen pada pendidikan, memberi perhatian pada rintihan rakyat yang mengeluh tentang mahalnya biaya pendidikan, dan mengeluh mencari sebuah sosok yang bisa membela hak-hak mereka. Sepertinya hanya sekedar retorika kampanye belaka, hal sebuah janji kosong yang terselubung komitmen untuk menjaring suara sebanyak-banyaknya. Kondisi DPR seperti ini semakin menambah masalah bangsa indonesia yang sudah bermasalah. Tentunya kesadaran anggota DPR dan kebangkitan lembaga ini adalah hal yang telah lama dinanti oleh rakyat, yang menanti perubahan dan ingin menyaksikan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Kita semua tahu selama bertahun-tahun dan berabad-abad bangsa kita telah berjuang dan berusaha, bahkan untuk memperluas janji tentang pendidikan yang baik, sebuah janji yang telah membuat jutaan orang melampaui pemisah ras, latar belakang, dan kelas untuk melampaui potensi yang telah Tuhan berikan. Jikalah anggota DPR tersebut dikaruniai indra dan kemampuan untuk merasa, seharusnya mereka dapat mengindrai harapan rakyat ini, dan merasa bersalah jika mengkhianati amanah rakyat ini. DPR memang bukan satu-satunya lembaga yang bisa dikritisi dalam permasalahan-permasalahan fundamental yang terjadi di bangsa kita sekarang ini, lembaga-lembaga negara kita, dari Kepolisian, Kejaksaan, KPK juga pantas menerima kritisi. Demikian juga pada lembaga penyelenggara negara kita, termasuk kinerja Kabinet Indonesia Bersatu. Kritik terhadap DPR, bisa dianggap sangat strategis, mengingat DPR adalah sebuah lembaga negara yang anggotanya dipilih rakyat, dengan tugas pengawasan terhadap lembaga negara lainnya. Kalau kredibilitasnya jatuh, pengawasan terhadap jalannya penyelenggaraan negara sudah tentu akan terganggu. Karena itu, selayaknya kita semua ikut menjaga kredibilitas DPR, agar lembaga pengawasan itu terjaga kredibilitasnya. Siapa yang wajib menjaga kredibilitas DPR? Sudah tentu para anggota DPR itu sendiri. Hal ini berarti, juga pada fraksi-fraksi dan pimpinan partai yang memegang kendali fraksi. Kalau DPR dikritik kurang peduli terhadap rakyat yang diwakilinya, selayaknya para anggota DPR yang terhormat bisa melakukan introspeksi diri, sejauh apa tuduhan itu benar, atau ada benarnya. Jujur dan bertanya pada diri sendiri, terhadap penilaian seperti itu, adalah awal untuk menjaga kehormatan DPR. Tuduhan itu, antara lain terkait dengan penerimaan anggota DPR, baik berupa gaji, uang kehormatan, ataupun tunjangan-tunjangan lainnya. Kalau hanya gaji/uang kehormatan, memang pantas jika dibandingkan dengan kinerja dan tanggung jawab moral “Wakil Rakyat” ini terhadap rakyat. Namun dengan menaikkan penerimaan dan gajinya. Mungkin kita harus berpikir berulang kali. Kenaikan dana yang mengatasnamakan rakyat dan demi nama pengabdian, tidak lebih dari upaya angggota DPR untuk mencari pendapatan lebih, misalnya dana aspirasi, rumah aspirasi, dan lain sebagainya. Yang semuanya diminta atas nama “aspirasi rakyat”, sebuah hal yang tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kinerja DPR yang tak terdengar sama sekali kemajuannya. Ternyata semua penerimaan dan gaji tersebut masih dianggap belum cukup dan tidak berpengaruh pada penerimaan pensiun anggota DPR, sehingga masih saja tergoda untuk menerima uang yang ilegal. Tidak berlebihan kalau masalah ini perlu dianalisis lebih lanjut oleh pemerintah, demi mencapai penyelesaian mendasar, sehingga setiap anggota DPR dapat sadar akan perbuatannya, dan menjalankan amanah ini dengan tenang dan ikhlas, sebagai bagian dari reformasi birokrasi. Belum selesai masalah di dalam negeri, sepertinya anggota DPR terlihat ingin bersembunyi dan bertamasya di negeri orang lain. Sebuah tamasya yang dilabeli oleh jargon-jargon politik yang mengatasnamakan rakyat. “Studi Banding” sebuah upaya untuk membandingkan struktur politik dan keorganisasian di dalam negeri dengan negara lain yang lebih maju. Menurut Kami sebenarnya upaya Studi Banding dapat dikurangi, seandainya DPR memiliki perpustakaan yang lengkap, sebagaimana negara lain menyelenggarakan berbagai programnya. Bandingkan dengan "Library of Conggress" Amerika, yang begitu lengkap kepustakaannya, sehingga tidak diperlukan "studi banding" bagi anggota Kongres AS untuk melaksanakan tugasnya. Demikian juga staf anggota DPR, termasuk staf ahlinya, para anggota DPR kita bisa iri hati melihat staf dan tenaga ahli anggota Kongres AS. Namun, menyamakan semuanya dengan AS juga tidak adil. Kita harus menyadari bahwa, belum saatnya kita mengacu ke sana, mengingat kondisi negara kita sekarang ini. Terakhir, mengenai pembangunan gedung baru DPR, selayaknya dilihat dari kebutuhan anggota DPR, yang seusai dengan kebutuhan anggota DPR, yang selaras dengan kondisi bangsa dan negara yang masih memprihatinkan. Sebagai wakil rakyat, sudah tentu sangat diharapkan pemahamannya terhadap koridisi rakyat kita sekarang, notabene yang masih banyak memerlukan uluran tangan anggota DPR yang terhormat. Kemampuan menempatkan diri pada kondisi seperti itu, akan sangat membantu menegakkan kehormatan dan kredibilitas DPR. Kalau DPR kita memahami kondisi rakyatnya, insya-Allah akan memperoleh kehormatan layak. Kredibilitas DPR sebagai lembaga peningkat akan terekspos dan berujung pada meningkatnya kepercayaan rakyat pada anggota DPR. Selain itu hal-hal yang menjembatani hubungan antara anggota DPR dengan rakyatnya perlu dibenahi dengan serius dan dikupas dengan baik dalam hal ini. Selama ini dalam hal pemberdayaan hak-hak rakyat selalu dipayungi oleh media pers dalam komunikasi antara para “Wakil Rakyat” dengan Rakyatnya, tentunya PERS yang dimaksud ialah , PERS yang menjunjung nama perjuangan dan demi menyampaikan informasi, bukan PERS yang malah “mengadu domba” antara Wakil dan Rakyatnya. “PERS perjuangan” dapat dikatakan hanya ada di zaman Bung Karno dan Pak Habibie. Di masa “pergolakan” tersebut pers sering kali menjadi bagian dari kelompok politik yang bertarung untuk memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan. Pers belum menemukan bentuk dan posisi yang tepat sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi yang ideal. Ini dapat dimaklumi mengingat sistem politik Indonesia di masa itu pun masih belum menemukan bentuk yang juga ideal. Pengunduran diri Presiden Soeharto pada Mei 1998 yang menandakan berakhirnya era Orde Baru menurut kacamata penulis merupakan sebuah revolusi demokrasi yang baru pertama kali terjadi di muka bumi, bahkan belum ada bandingannya hingga kini. Peristiwa itu secara fundamental menginisiasi perubahan wajah demokrasi Indonesia dari “demokrasi terpimpin” ala Pak Harto ke arah demokrasi ideal yang memberikan kesempatan kepada rakyat dan semua kelompok civil society mengontrol kekuasaan yang dijalankan lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Seyogyanya, kita dapat melakukan revolusi demokrasi di era 1960an menyusul berakhirnya kekuasaan Bung Karno andaikata Pak Harto tidak larut pada permainan Amerika Serikat dan blok Barat yang memanfaatkannya dalam perang melawan komunisme di era Perang Dingin, Bila Pak Harto tidak kebablasan dan berhenti di 1970an, atau menjadi presiden untuk setidaknya empat periode, dapat dibayangkan kini masyarakat Indonesia kemungkinan besar tengah menikmati demokrasi yang berkelanjutan berikut kesejahteraan berkeadilan yang merupakan buah dari demokrasi. Namun demikian perlu juga diingatkan bahwa kemenangan dalam memperjuangkan demokrasi di tahun 1998 menghadapi ancaman serius ketika para pelaku atau pihak-pihak yang terlibat dalam perjuangan itu (atau biasa disebut kaum reformis) terjebak pada euphoria yang menjadikan pergolakan dan revolusi sebagai tujuan akhir. Padahal, semestinya pergolakan dan revolusi hanya dipandang sebagai salah satu cara dalam upaya merebut tujuan. Perlu disadari bahwa bila “revolusi” disusul dengan “revolusi”, yang tercipta adalah negara gagal. Kegagalan ini terjadi karena agenda untuk mewujudkan tujuan demokrasi jadi terbengkalai. Di masa pasca revolusi demokrasi ini, dibutuhkan pers yang kuat, yakni pers yang komitmennya tidak hanya untuk tujuan revolusi, yaitu demokrasi, tapi juga untuk mewujudkan tujuan demokrasi, yakni kemakmuran. Namun di saat yang bersamaan setiap insan pers juga dituntut untuk memiliki kesadaran yang kuat bahwa dirinya bertanggung jawab terhadap semua aktivitas jurnalistik yang dilakukannya. Insan pers bukanlah penganut paham jingoisme atau patriotisme (terhadap apapun) yang ekstrem dan melupakan kewajiban dan tanggung jawab sejarahnya. Insan pers mendapatkan UU yang lex specialis karena ia mewakili kepentingan masyarakat, bukan kepentingan dirinya sendiri maupun kelompok kecil lainnya. Pengabdian insan pers adalah pada cita-cita masyarakat banyak, yaitu kemakmuran. Untuk itu insan pers harus memberi warna positif, termasuk kritik yang bertujuan konstruktif bukan destruktif, dalam proses demokrasi Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Selama ini belum terlihat komunitas pers di Indonesia yang berpikir serius dan menggariskan arah perjuangan pers yang pasti. Belum ada agenda bersama. Itulah sebabnya kini kita menyaksikan banyak media dan insan pers menjadi penganut paham jingoisme. Mereka loyal secara ekstrem pada kepentingan kelompok tertentu, termasuk pemilik modal, dan mengabaikan tujuan yang lebih besar dan lebih mulia. Membangun dan terus membangun bangsa dengan kritik yang konstruktif dan dapat membangunkan hubungan rukun secara simultan antara rakyat dengan wakil rakyatnya, yaitu anggota DPR RI Dan dengan hubungan yang terjaga simultan antara, wakil rakyat dan rakyatnya, dapat mewujudkan cita-cita sebenarnya dari falsafah demokrasi modern, yaitu mewujudkan aspirasi dan melibatkan rakyat sebagai penentu kebijakan, dan tentunya tidak melupakan media yang sejak zaman orde lama, sampai orde baru berfungsi sebagai sarana penggerak massa, dengan tujuan memperjuangkan hak dan cita-cita bangsa yang modern. Dan pers tidak lupa dengan apa yang diperjuangkannya sejak dulu, merujuk pada sejarah dan membawa dan meletakkan jiwa rakyat indonesia , agar tetap berapi-api mewujudkan apa yang dimaksud era demokrasi baru!!.. era. Dimana DPR tidak menjadi pihak yang otonom dan bersifat otoriter, tetapi lebih menggunakan kebijaksanaan dan asas persatuan dengan rakyat dalam rencana pembuatan kebijakan, demi tercapainya pemerintahan yang sinergis dan tanggap. Memang keberhasilan suatu negara dalam menjalin pemerintahannya tidak bergantung pada hubungan skala pendek antara, DPR dengan rakyat, tetapi juga hubungan yang solid dan terintegrasi dengan lembaga-lembaga penyelenggara negara lain. Percuma rasanya, jika keberhasilan dalam pembuatan undang-undang ,tidak dibarengi dengan pelaksanaan yang baik oleh pihak eksekutif. Sama halnya dengan belajar suatu teori tetapi tidak tahu bagaimana harus mempraktikkannya, sungguh disayangkan bukan, jika hal semacam itu terjadi. Keadilan juga merupakan sesuatu yang bisa dianggap langka, kekuatan hukum yang memandang kesamarataan dan persamaan derajat antar manusia, sepertinya dinodai sendiri oleh oknum oknum ahli hukum dan badan yuridis Indonesia. Jika kita cermat.. dan melihat lebih jeli lagi, kita dapat melihat kasus-kasus yang sengaja dikaburkan demi mencapai tujuan kaum kepentingan tertentu. Coba lihat.. kasus Bank Century, intelektual-intelektual hukum yang biasanya lancar berbicara di persidangan orang bawahan, tampak seakan-akan kehilangan kepintarannya saat berorasi dalam persidangan kaum atas dan otokratis. Sepertinya semua anggota dari kasus bail out bank century, sengaja menutup-nutupi kasus tersebut. Mungkinkah mereka semua terlibat dengan kasus ini, sehingga untuk mengungkapkannya terasa sulit sekali?, apakah telah terjadi korupsi massal di pemerintahan? Meskipun rasanya mungkin saja semua pertanyaan itu dijawab dengan anggukan, karena jika jika fakta satu, dengan lainnya dikaitkan dengan yang lain terjadi suatu keterkaitan. Kita lihat di jaman pak Harto saja, korupsi tidak hanya berfungsi sebagai alat penguras dompet negara , namun juga dapat berfungsi sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan. Hal ini terbukti di jaman orde baru, di saat pemerintahan pak Harto. Semua pegawai pemerintahan, menteri, dan pejabat –pejabaat lain dibiarkan melakukan korupsi sebanyak-banyaknya, sehingga korupsi menjadi suatu yang booming di jaman itu, dan secara tidak langsung memperkuat posisi pak harto di istana negara. Terbukti saat jaman-jaman menjelang kejatuhan pak Harto tidak ada yang pejabat-pejabat yang ikut menghujat pak Harto, karena mereka mempunyai hubungan mental yang kuat dengan kasus ini. Jika mereka membongkar, maka terbongkarlah semua. Hal inipun serupa dengan kasus bank century, dimana antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya terlihat saling menutupi, dan bungkam satu sama lain. Tanpa melihat keadaan rakyat ,yang semakin buruk keadaannya. Nilai-nilai keadilan menjadi lebih sulit dicari, mungkinkah pepatah zaman dahulu yang mengatakan bahwa tuhan bisa mencari dan menciptakan semua kecuali keadilan. Pepatah itu memang relevan dengan kondisi bangsa kita, dimana mencari keadilan lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami. Kasus bank century, kasus mafia pajak sejumlah kasus berat, dengan hukuman ringan bagi pelakunya. Tentunya ini bukanlah keadilan, tetapi sekedar “hukuman” bagi mereka. Bagaimana bisa disebut adil, jika untuk sedemikian besar kepentingan dan hak rakyat dizalimi dan untuk amanat-amanat rakyat yang sedemikian mudah dikhianati, mereka malah mendapat voucher menginap gratis di penjara dengan fasilitas-fasilitas mewahnya. Sesuatu yang terlalu ringan, jika dibandingkan dengan besarnya pengkhianatan. Tentunya ini bukanlah keadilan yang dicari dan di cita-citakan bangsa kita sejak jaman dahulu, keadilan yang menembus batas ras, dan kepentingan ,yang tidak membedakan hak dan status , dan tumbuh subur bersama kesejahteraan dan kemakmuran. Sebagai suatu pilar demokrasi masa kini, DPR harus menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan pemerintah , baik yang menyangkut bidang yuridis maupun kepentingan pihak eksekutif. Sehingga tidak terjadi suatu kepentingan hukum, yang memihak salah satu golongan, kelompok maupun kepentingan tertentu.

Selasa, 28 Juni 2011

Algoritma



Algoritma?!.. Apa itu ?!..

Ditinjau dari asal usul katanya, kata ”Algoritma” sendiri mempunyai sejarah yang panjang tapi akhirnya aneh.

Dahulu, orang hanya menemukan kata Algorism yang berarti proses menghitung dengan angka arab.

Jadi, anda akan dikatakan Algorist jika anda menghitung menggunakan angka arab.

Para ahli bahasa berusaha menemukan asal kata ini, namun hasilnya kurang memuaskan.

Akhirnya para ahli sejarah matematika menemukan asal kata tersebut yang berasal dari nama penulis buku arab yang terkenal,

yaitu Abu Ja’far Muhammad Ibnu Musa Al-Khuwarizmi.

Salah satu bukunya adalah Kitab Al Jabar Wal-Muqobala yang artinya ”Buku pemugaran dan pengurangan”.

Al-Khuwarizmi dibaca orang barat menjadi Algorism.

Perubahan kata dari Algorism menjadi Algorithm muncul karena kata Algorism sering dikelirukan dengan Arithmetic.

Sehingga akhiran –sm berubah menjadi –thm.

Karena perhitungan dengan angka Arab sudah menjadi hal yang biasa,

maka lama-kelamaan kata Algorithm berangsur-angsur dipakai sebagai metode perhitungan(komputasi) secara umum.

Akhirnya kehilangan makna Aslinya. Dalam Bahasa Indonesia,kata Algorithm diserap menjadi Algoritma.

Minggu, 26 Juni 2011

Angka 13

Bagi sebagian besar orang, angka 13 adalah angka sial.
Sesungguhnya Pernyataan ini datangnya dari agama nonmuslim.
Nonmuslim berkata seperti itu , karena pada waktu perang badar,
pasukan mereka mengalami kekalahan dari umat islam.
Waktu itu pasukan muslim berjumlah 313 orang tetapi berhasil mengalahkan lebih dari 2000 pasukan nonmuslim.
Jadi, angka 13 merupakan angka keberuntungan kita (orang muslim).
Ingat,dalam agama islam TIDAK ADA KESIALAN.

Full Name

Candra Arga Maulana